master web
indonesia
.
.
.
.
.
.
[ Kembali ] [ menu utama ]

 
. . . .

Wawancara / Interview

.


Christian Tirtha
Adalah Seorang Profesi Web Indonesia
Yang Bekerja Di Luar Negeri
21 Maret 2001

Redaksi MWI :
Nama lengkapnya dong, dan nama panggilannya apa nih ?
Christian Tirtha :
Christian Tirtha, biasa dipanggil Chris. Asal dari Bandung.

Redaksi MWI :
Status single atau sudah merried nih ?
Christian Tirtha :
Not married.

Redaksi MWI :
Sebelum lebih jauh bincang-binangnya, profesi web kamu apa ? designer ? programmer ? animasi ? atau apa ?
Christian Tirtha :
Saat ini saya bekerja di Apak Entertainment (www.apak.com.au) tepatnya di Melbourne, Australia. Profesi saya saat ini secara umum lebih dikenal sebagai Multimedia Designer. Namun di Apak sendiri saya bertugas menjadi supervisor untuk proyek-proyek multimedia dan juga lead animator... jadi cakupan pekerjaannya cukup luas. Untuk proyek multimedia, misalnya, saat ini kami mempunyai kontrak jangka panjang untuk membuat CDROM interaktif. Saya bertugas membuat production plan, template script, desain user interface dan scheduling. Untuk proyek khusus web design & development saya lebih banyak bertugas di bagian programmingnya, karena sementara ini kami mempunyai creative director yang cukup handal. Di tengah tugas* kantor, kami berdua sedang mengerjakan web site eksperimen untuk kepuasan pribadi.

Redaksi MWI :
Sudah berapa lama terjun ke dunia profesi web ini ? asal mulanya bisa diceritakan ?
Christian Tirtha :
Kalau kerja sih sudah sejak tahun 96, tapi itu kerja non-profesional, seperti cleaning service, nganter*in koran, dan nge-DJ (tapi pake sabun, alias cuci piring hehehe). Saya mulai kerja profesional selagi kuliah Electronic Design and Interactive Media di Victoria University (sebelumnya saya belajar graphic design di institusi yang sama) pada tahun 1998. Saat itu saya bekerja sebagai graphic designer di sebuah percetakan kecil. Pada saat yang sama saat* itu Krisis Moneter mulai menghantam Asia, khususnya Indonesia, jadi saya tadinya hampir diminta pulang karena orang tua sudah tidak sanggup lagi membiayai. Syukurlah ada pekerjaan ini yang bisa kemudian menopang kehidupan saya sampai beberapa tahun mendatang. Di samping itu saya juga mendapatkan proyek* sampingan seperti desain ulang logo, illustrasi, sampai ngasih kursus kilat Flash.

Singkat cerita, tahun kemarin saya memutuskan berhenti bekerja di percetakan karena saya sangat ingin mengejar karir di bidang multimedia. Dan akhirnya sampai dapat mulai kerja di Apak, kira* pertengahan tahun 2000. Pada mulanya saya mendapat posisi sebagai Lingo Programmer di bawah pengawasan seorang supervisor. Beberapa bulan kemudian saya mulai menjadi assisten supervisor dan mulai mendapatkan tanggung jawab lebih besar dalam mengatur kelancaran proyek. Awal tahun ini sang supervisor kembali ke dunia pendidikan sebagai dosen senior di bidang multimedia. Jadinya sekarang saya yang mendapatkan posisi supervisor.

Redaksi MWI :
Yang kami tahu adalah kamu kerja di luar negeri di perusaaan apa ? ada hubungannya sama IT atau Web ?
Christian Tirtha :
Perusahaannya Apak Entertainment (sorry udah kejawab duluan di atas). Kami memusatkan spesialisasi kami di internet branding. Artinya kami dapat memberikan suatu tampilan yang segar dan menonjol bagi website klien kami. Di samping itu juga kami mempunyai beberapa ahli di bidang backend dan database programming, dan seperti saya telah sebutkan di atas juga CDROM interaktif. Apak juga mempunyai latar belakang film and video production bersama dengan stasiun* TV terkemuka di Australia (channel SBS, 9 dan 10, yang saya ingat). Saat ini beban pekerjaan kami cukup banyak di web design and development.

Redaksi MWI :
Bagaimana menurut kamu prospek dunia IT dan Web di luar negera tempat kamu berkerja dibandingkan dengan di Indonesia ?
Christian Tirtha :
Hehehe ... itulah pertanyaan yang mendorong saya bergabung dengan milis* web desainer di Indonesia seperti MWI dan juga Warz-nya Surabaya (walaupun kalau ada yang ngomong Jawa so pasti saya gelap). Prospek IT dan Web sejauh ini di Australia bisa dibilang sangat baik, walaupun juga dibayangi oleh kematian perusahaan* dot.com seperti di Amerika ... Namun demikian, lapangan pekerjaan yang tersedia masih cukup tinggi (survey terakhir yang saya baca) sedangkan tenaga kerja siap pakainya masih relatif rendah. Tapi saya lihat ini cepat berubah, karena pemerintah cukup sigap menghadapi 'keterbelakangan tenaga kerja' seperti ini. Tahukah Anda bahwa Australia mempunyai menteri khusus yang menangani persoalan multimedia dan IT ? Belakangan ini pendidikan di bidang multimedia juga mendapatkan suntikan dana yang sangat besar dari pemerintah, berarti menunjukkan tingginya permintaan untuk tenaga kerja yang berkualitas. Banyak dari profesional muda Australia (di bidang IT dan multimedia) yang kian hari makin mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.

Kalau saya membaca dari tulisan* yang berseliweran di beberapa milis, kelihatannya prospek IT dan web di Indonesia juga cerah dan menjanjikan. Mungkin ada sedikit keuntungan kalau perkembangan di negara kita sedikit terbelakang, karena dengan demikian kita bisa belajar banyak dari negara* yang sudah maju. Kita juga bisa belajar dari kesalahan* fatal yang mereka lakukan, supaya begitu kita sampai di level mereka sekarang, kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mungkin salah satu kendalanya, yang cukup sering disinggung di beberapa milis, adalah persepsi masyarakat secara umum terhadap bidang IT dan web. Dan ini tidak jarang, setahu saya, merembet ke persepsi client juga. Secara umum mungkin kurang ada apresisasi terhadap ide atau konsep, sehingga banyak tenaga kerja yang dibayar hanya berdasarkan 'barang jadi'nya. Ngga ada barang, ngga ada uang, mungkin begitu kira*. Sementara di Aussie dan Amerika, ide dan konsep itu berharga sekali, bahkan sering menjadi faktor penentu dalam pemberian harga kepada client.

Redaksi MWI :
Bisa cerita sistem kerja ditempat kamu bekerja ? atau ada tidak perbedaan sistem kerja di luar negeri dibanindg Indoneisa, bagaimana juga mengenai salary nya ? lebih enak mana kerja di luar negeri atau di dalam negeri sendiri ? mungkin bisa kasih gambaran mengenai enak dan tidak enaknya.
Christian Tirtha :
Terus terang saya belum punya pengalaman bekerja langsung di Indonesia, jadi saya tidak bisa membandingkan dengan langsung. Sistem kerja kami di kantor kira* begini : kami mempunyai seorang Business Development Manager, dia bertugas mencari client, menjaga hubungan dengan client, memberikan nasihat / pertimbangan kepada pimpinan dan mengkomunikasikan keinginan client kepada pimpinan / designer. Biasanya Director dan BDM (saya singkat aja ya) yang bertemu dan bernegosiasi langsung dengan client mengenai harga, konsep, deadline dsb. Kami biasanya mendapatkan tugas langsung dari Director dalam bentuk entah coret*an kertas (yang paling saya ngga demen hehehe) atau makalah komplit atau lisan, tergantung kompleksitas proyeknya. Untuk proyek CDROM yang terakhir misalnya, karena strukturnya cukup kompleks, kami memiliki production plan yang cukup ketat dan detail yang tebalnya sekitar 300-400 halaman. Kemudian, kembali tergantung proyeknya, biasanya saya dan Director briefing mengenai masalah konsep dan teknis. Ini bisa berlangsung beberapa jam, dan kadang kami sambil melakukan riset di Internet untuk hal* yang masih kabur, atau langsung menelpon profesional lainnya, atau (kalau seperti saya) kabur ke toko buku. Kami berusaha melihat satu proyek dari banyak mungkin kemungkinan, kami merancang skenario demi skenario untuk memastikan interfacenya berfungsi dengan baik, memenuhi permintaan client dan sebagainya. Setelah briefing ini selesai, kami memulai resourcing. Ini cakupannya luas, bisa berbentuk mencari tenaga kerja part time tambahan, mencari buku* yg relevan, menulis script, merancang template untuk interface, pokoknya 'dasar bangunan'nya disiapkan sekokoh mungkin supaya pekerjaan dapat selesai dengan efisien dan efektif. Berikutnya adalah tahap production, di mana semua 'pekerjaan kasar' dilakukan. Menulis script demi script, memotong* gambar, membuat animasi, mendesain halaman dsb. Kemudian datang tahap testing, di mana kami membuat prototype dari produk yang kemudian ditest dari segala aspek. Begitu selesai di test dan diperbaiki, tinggal tahap launching (untuk web site) atau duplikasi (untuk CDROM).

Mengenai salary sih seperti saya katakan di atas, apresiasi di Australia masih relatif tinggi dibandingkan di Indonesia. Terakhir saya cek gaji rata* pekerja di Australia (terlepas bidang pekerjaannya) tuh sekitar $30,000 - 40,000. Bekerja di bidang IT dan web, tergantung posisi dan pengalaman kerja Anda, bisa mendapatkan $40,000 - 100,000. Di samping itu, selain salary, perkembangan IT dan web di Australia cukup pesat yang jelas menjanjikan banyak tantangan dan kesempatan untuk memperdalam skill kita. Di Indonesia, sementara ini, mungkin 2 poin di atas merupakan kendala yang cukup berarti bagi para profesional untuk maju.

Kadangkala perbedaan bahasa dan budaya merupakan bagian dari 'tidak enak'nya kerja di luar negeri, khususnya bagi mereka yang terbiasa bekerja di negeri sendiri. Tapi saya percaya ini berbeda bagi masing* individu, karena saya sendiri semasa di Bandung belum pernah bekerja secara langsung, maka saya sudah sejak semula terbiasa dengan kebudayaan bekerja di sini. Bahasa bisa jadi kendala yang cukup besar, karena di dalam bidang IT dan web kita sering kali perlu memberikan penjelasan / argumen atas pendapat kita. Begitu juga saat berkomunikasi dengan client, kita tidak bisa menggunakan bahasa Inggris 'turis' yang terpatah* (orang Aussie kalo udah bicara lumayan cepet loh) .Saya sendiri gemar membaca banyak majalah dan artikel di internet, sehingga hal ini tidak begitu mengganggu.

Redaksi MWI :
Dengan teknologi yang begitu cepat, bagaimana perkembangannya di luar negeri ? bisa dibandingkan dengan Indonesia ?
Christian Tirtha :
Ini mirip pertanyaan nomor 6 ?

Redaksi MWI :
Spesifikasi komputer yang kamu gunakan apa ?
Christian Tirtha :
Kalau di kantor, ada 10 mesin. Rata* Celeron 500-566. Ada 2 yang saya pakai, keduanya Pentium III 700-800 dengan 256 - 320 MB RAM. Hard drive masing* sekitar 15-20 GB. Graphic card mencukupi (untuk main Quake atau Counter Strike :-)) Hampir semua jalan di Windows 98. Kalau di rumah,hasil rakitan bersama teman: Dual Celeron 433, 256 MB RAM, GeForce 2 MX twin head. 15GB hard drive lari di Windows 2000 Profesional. Rencananya mau ngerakit mesin lagi buat eksperimen dengan Linux, tapi belum ada waktu.

Redaksi MWI :
Ada kesulitan kah untuk mendapatkan software-software ?
Christian Tirtha :
Hampir tidak ada. Toko software bermutu cukup banyak di jantung kota. Bisa tinggal telpon atau langsung jalan kaki ke tokonya kalau mau. Tapi untuk pembelian software biasanya urusan sang direktur, saya biasanya hanya memberikan anjuran dari sudut teknis dan efisiensi produknya.

Redaksi MWI :
Menurut kamu bagaimana perkembangan dunia IT atau Web di Indonesia ? ada komentar khusus mengenai Indonesia ?
Christian Tirtha :
Maaf, ini juga mirip dengan pertanyaan nomor 6 yah. Soalnya saya liat jawaban saya di nomor 6 sudah cukup mencakupi pertanyaan nomor 8 dan 11. Silahkan klarifikasi kalau kurang jelas.

Redaksi MWI :
Pesan-pesan untuk para profesi web di Indonesia ?
Christian Tirtha :
Selalu belajar untuk maju, jangan terlalu bergantung sama software / hardware. Selalu pertanyakan motif dan konsep di belakang karya yang Anda kagumi. Selalu percaya kalau kita tidak pernah selalu 100% benar. Dan terakhir, SELALU DEBUG. (hehehehe)

Redaksi MWI :
Kata-kata mutiara atau motto ?
Christian Tirtha :
Motto ini saya suka dan juga termasuk yang kadang paling sulit untuk dijalani, "It's not WHAT you do, it's HOW you do it."





|||| KETERANGAN ||||

Team MWI (Master Web Indonesia) selalu memantau perkembangan dunia web di Indonesia, maka tak lupa kami akan memberikan wawancara maupun interview kepada profesi-profesi web yang berkompeten.

Jika anda ingin di wawancara silahkan hubungi kami :

team@master.web.id








© 2000 TEAM MASTER WEB INDONESIA

. . . .
Dilarang memperbanyak artikel yang terdapat pada halaman Master Web Indonesia tanpa seizinTeam Master Web Indonesia.