| Arsip mwmag | [Up] | © 2002 PT Masterweb Media |
Dua bersaudara Jason dan Matthew Olim adalah pendiri CDNow (www.cdnow.com), sebuah toko musik online yang berdiri tahun 1994. Ketika mulai membuka pintu bisnis, apa yang mereka lakukan? Mengumpulkan alamat email semua orang yang mereka tahudari kenalan sesaat hingga teman akrab, dari anggota keluarga jauh sampai rekan kerja dan sekolahlalu mengirimi mereka undangan elektronik. Bukan itu saja, mereka pun secara teratur memposting promosi tentang toko mereka di newsgroup-newsgroup yang mereka ikuti.
Apakah tindakan mereka dipandang sebagai spam? Rasanya pada waktu itu tidak. Orang-orang dengan senang hati datang memenuhi undangan bahkan memesan CD. Tapi perlu diingat bahwa kondisinya berbeda sama sekali dengan sekarang. Jumlah toko online masih sedikit, Amazon belum ada, dan Microsoft masih belum melek Internet. Toko online pertama CDNow bahkan bukan berupa situs web, melainkan program berbasis teks yang diakses langsung melalui telnet. Dalam waktu beberapa tahun, Internet telah menjelma menjadi pusat kegiatan komersial. Sekarang, jumlah halaman web telah mencapai miliaran, telnet telah ditinggalkan banyak orang, dan perang browser yang dahsyat itu telah kita lewati. Juga, spam telah merajalela di mana-mana.
Aturan dan pandangan orang berubah seiring perkembangan zaman. Apa yang dipandang sopan, tidak etis, biasa-biasa saja, atau kelewatan bisa bergeser dan berbalik. Kalau dulu tindakan Olim bersaudara dianggap sah-sah saja, barangkali sekarang akan diprotes atau mungkin dibawa ke meja hijau. Bahkan bisa saja suatu saat nanti dipandang tidak sopan mengirimi seseorang email tanpa terlebih dahulu melakukan sesuatuseperti mengirim email konfirmasi atau mendaftarkan diri di situs web si penerima.
Hidup di dunia yang didominasi kapitalisme memang ada sisi buruknya: marketing. Setiap orang berusaha menjual sesuatu, menawarkan ini itu, menjejali kita dengan informasi tak perlu. Dan semakin hari kondisinya semakin parah. Sketsa humoris film kartun Futurama, di mana para pengiklan memancarkan gelombang khusus untuk memasukkan iklan ke dalam mimpi orang-orang yang sedang tidur, bukan mustahil bisa terjadi. Karena ketatnya persaingan di pasar, selalu dicari cara-cara beriklan baru yang inovatif. Norma etika bisa jadi nomor dua atau nomor sekian.
Saat ini, di mana setiap harinya pengiklan menggenjot puluhan juta spam ke Internet, apakah kita perlu memalingkan muka mencari dunia online yang sosialis atau komunis? Di mana segala sesuatu sudah diatur: setiap orang diberikan jatah jumlah data transfer per hari, jumlah email yang boleh dikirim/diterima per hari, dan ditetapkan hanya boleh mengakses daftar situs tertentu? Barangkali tidak. Tapi khusus untuk spam, secara pribadi saya setuju diberlakukannya sejumlah peraturan, lengkap beserta hukuman finansial/kurungan. Masalah yang satu ini sudah mengakibatkan kerugian banyak pihak dan dilakukan dengan sadar, terorganisir, dan berskala besar.
Sambil menunggu peraturan dan sistem teknis yang lebih baik, mari kita lindungi diri kita dan kebebasan kita dengan tool-tool yang ada. Selamat membaca.
Salam,
Steven Haryanto
[Last-Modified: Fri Nov 29 14:48:49 2002]
| Arsip mwmag | [Up] | www.master.web.id/mwmag |