Arsip mwmag[Files]  [Up]© 2002 PT Masterweb Media

Kolom Benhill:

def spam

    Tables

    1. Spam atau Bukan?

     

    Hari ini ekstra panas. Membuat debu kering beterbangan, mengganggu pandangan sambil mengotori wajah yang lembap karena peluh. Tapi sudah kepalang tanggung keluar rumah, begitu ujar Wibi dalam hati. Lagipula gue gak bisa kerja karena butuh instal beberapa RPM yang gede-gede. Maka Wibi pun dengan sabar tetap berdiam menunggu bis.

    Warnet dotnet tidak begitu ramai seperti biasa. Dari delapan PC yang ada, hanya dua yang terisi. Mbak Mien tersenyum melihat Wibi dengan santai melenggang masuk sambil menyedot cairan dingin dari botol Sosronya. Tanpa merasa perlu mengucapkan apa-apa, bahkan tanpa mengalihkan sedotan dari mulut, Wibi hanya meringis kepada perempuan itu. Mbak Mien pun langsung menggerakkan kepala menunjuk kepada sesosok manusia yang sedang duduk bersila di atas kursi di salah satu meja warnet.

    “Punya CD ROM yang bisa gue pinjem?” kata Wibi dari balik bilik kayu.

    “Hei,” sapa Edo setelah mengangkat bola matanya. “Ada gak cara biar gue bisa masukin banyak alamat ke dalam milis ezmlm sekaligus?” Lalu sesaat kemudian Edo bergerak, “Wuah, capek juga ya…”

    Entah apa lagi yang sedang dikerjakan anak ini, dalam Wibi setengah bertanya-tanya. Saat mendekatkan kepalanya ke monitor sambil memicingkan mata, Wibi melihat sebuah window sesi SSH yang sedang terhubung ke salah satu server Linux milik Edo. Di beberapa baris terakhir ada baris-baris ezmlm-sub yang baru saja diketikkan Edo.

    ezmlm-sub kan bisa menerima banyak alamat email sebagai argumennya. Elo pake xargs aja biar bisa masukin dari file.”

    xargs?” Rupanya Edo yang tadi sudah berdiri untuk membunyikan tulang-tulangnya itu sedang tidak mendengar. Ia baru saja memberi instruksi pada Mbak Mien agar memesankan juga satu botol Sosro plus nasi dari penjual makanan di seberang ruko. “Oh, bisa begitu ya?” lanjut Edo.

    “Elo bikin milis apa?”

    “Ini nih, dari tadi gue iseng masuk-masukin nama orang dari milis lain yang gue ikutin. Orang-orang yang kira-kira potensial gitu… kayak yang satu ini nih… dia tanya-tanya soal hosting PHP/MySQL gratis, kali aja bisa ditawarin. Gue lagi cari posting-posting sejenis.” Sambil menjelaskan begitu Edo memindahkan window aktif ke aplikasi Outlook Express-nya. Di sebuah panelnya terpampang posting di salah satu milis Indonesia. OE adalah salah satu aplikasi yang paling dibenci Wibi.

    “Elo mo nyepam ya? Dasar.”

    “Hehe. Paling gue email sekali dua kali, kalau perlu japri-japrian aja. Masa kayak gitu tega disebut spam juga sih Wib…” Seraya nyengir lugu, Edo menggosok-gosok kecil daerah di atas pojok bibirnya. Seolah-olah ada kumis di situ. Padahal bersih polos. Anak ini mestilah rajin banget nyukur kumis, atau kekurangan hormon.

    Well, begini ini profil tipikal seorang spammer, pikir Wibi sambil menggeleng-geleng kecil. Tidak punya rasa bersalah, dan tidak mau disalahkan. Kalau tidak menyangkal, ya pura-pura lugu dan tak tahu. Atau mencari seribu satu pembenaran. Maling mana ada yang mengaku maling sih.

    Meskipun tingkahnya sering kali polos dan spontan, kadang-kadang Wibi sebal juga jadinya dengan otak komersil temannya yang satu ini. Sudah sekelas Edo—yang jadi operator warnet bahkan pemilik bisnis webhosting—masih tidak tahu yang namanya spam? Huh, lucu sekali.

    Tapi kemudian Wibi ingat pada posting yang pernah dia baca. Ketika milis id-php@yahoogroups.com dibom orang beberapa saat lalu, ada yang mengeluh sambil berkata, “Gimana nih bung admin, masak orang yang nyepam gitu dibiarin aja sih?” Atau posting lain celetukan salah seorang yang bilang Plasacom/Yahoo! Groups nyepam dengan menaruh trailer di email-email mereka. Hm, mungkin memang masih banyak orang yang gak tahu apa definisi spam yang sebenarnya. Barangkali Edo perlu sekali-kali gue tatar, Wibi berpikir sedikit sok. Karena itu, Wibi menaruh teh botolnya di meja lalu mendaratkan dagunya di tangan yang sebelumnya telah bertengger di bilik meja warnet.

    “Jadi menurut elo yang elo lakukan itu bukan spam?”

    “Hm… mm, gimana ya… mungkin bagi sebagian orang yang terlalu sensitif bisa aja disebut spam. Tapi gini lho Wib. Email itu kan gak beda dengan alamat surat-menyurat kita yang terpampang di kop surat, atau nomor telepon yang kita cantumkan di kartu nama atau buku telepon, atau nomor faks, nomor HP, dsb. Jadi siapa aja boleh dong menghubungi nomor-nomor tersebut. Gue gak ngerti deh kenapa yang kayak gini aja kok dilarang. Kan hanya ingin menawarkan sesuatu. Bukan memaksa, mengancam, atau menipu.”

    “Bener sekali, email itu bersifat publik. Jika email seseorang terpampang di kartu nama atau di homepage pribadinya, tentu saja gak ada yang melarang elo mengirimi dia email. Tapi kalau email seseorang itu tidak dikehendaki atau tidak diinginkan si penerima, maka email tersebut termasuk spam.”

    Edo tidak mau kalah. Dasar barangkali memang sudah didikan keluarganya, segala sesuatu harus dibantah. “Memangnya apa yang menentukan sebuah email itu diinginkan atau tidak? Andai gue temennya, atau sodaranya, apa email gue tidak diinginkan? Atau gue ingin menawarkan sesuatu pada seseorang, apakah 100% pasti bahwa si orang itu tidak menghendaki barang/jasa yang gue tawarkan? Kan bisa aja berguna!”

    “Yang pasti, kalo elo kirimin iklan email elo otomatis jadi bersifat tidak dikehendaki.”

    “Kata siapa?” Edo makin sengit.

    “Kata gue. Dan kata semua pengguna email. Elo gak sadar apa, bahwa orang yang hidup di zaman modern ini udah muak dengan iklan. Ibaratnya minyak goreng, udah jenuh. Ibaratnya server Linux, load-nya udah 200-an.”

    “Bicara soal load, biasanya kan yang diprotes adalah spam-spam yang besar-besaran. Kalo kayak gue ini kan paling puluhan atau seratusan deh. Gak membebani siapa-siapa kan?”

    Masih mencoba membela diri. “Gini ya, mo ke satu orang kek atau seribu orang kek, yang namanya spam tetep aja spam. Dalam hal bandwidth memang biaya yang lo timbulkan gak seberapa, tapi elo tetap membebani setiap orang yang harus membuka, membaca, dan menghapus email elo. Email elo kan tetap bersifat tidak dikehendaki.”

    “Tapi ‘spam’ gue ini kan gak porno. Gak dikirim terus-terusan. Gak nipu. Pokoknya baik-baiklah!”

    “Pokoknya kalo iklan gak boleh!” balas Wibi galak.

    “Lah, kalo gue gak boleh ngiklan, kapan gue dapet klien dong. Trus kita mo makan apa, gigit kulit kabel keyboard?”

    “Pake cara-cara lazimlah, kayak beriklan di TV, radio, surat kabar, majalah. Atau pake iklan-iklan mini, kan murah tuh. Atau andalkan aja mulut ke mulut.”

    “Yah elo. Emang gue siapa, ngiklan di tivi. Lagian, kalo gue iklan di iklan-iklan mini majalah misalnya, hasilnya paling seberapa sih? Belon tentu balik modal lima puluh ribu yang gue keluarin.”

    “Salahin aja para marketer itu sendiri. Bayangin aja, dunia udah penuh iklan gini masih aja dijejelin terus. Akibatnya, orang kan jadi makin gak peduli dengan iklan. Sehingga tingkat respon menurun. Lalu apa yang dilakukan marketer? Semakin agresif beriklan, sehingga orang makin gak peduli, dst. Lingkaran setan.”

    “Jadi gue mesti gimana dong? Diem aja? Andaikan gue ngeliat saingan-saingan gue pada ngiklan juga, apalagi main spam-spaman, apa gue mesti diem aja? Terus andai kata elo dapat alamat email klien-klien saingan elo, masa elo biarin aja? Minimal ya diemail gitu. Ditawari sesuatu. Atau elo ikutan forum yang isinya banyak calon klien. Masa elo gak nawarin mereka sih. Goblok amat.”

    “Yah, kembali lagi ke etika dan etika. Sopan gak menawari orang yang udah punya hubungan bisnis dengan pihak lain. Malu gak narik-narik klien orang?” Wibi menyeringai.

    “Wah Wib, kalo zaman sekarang masih malu-malu atau sopan-sopanan, elo udah digilas orang dong,” ujar Edo dengan nada sendu, sambil menghempaskan badannya ke punggung kursi.

    Edo kembali memelototi layar telnetnya. “Hm, jadi kalo gue emailin orang ini satu persatu pun termasuk spamkah?”

    “Menurut gue iya.”

    “Kalo gue posting di iklan baris tapi di beberapa kategori, itu termasuk spam juga gak?”

    “Menurut gue iya.”

    “Kalo gue kirim email pake skrip, tapi gue menawari dulu apakah mau masuk mailing list atau tidak, termasuk spam juga?”

    “Mailing list mana dulu? Mailing list untuk dikirimin iklan lagi? Ya jelas email undangan ke milis itu tidak dikehendaki dong.” Wibi tertawa kecil.

    “Yah, segala sesuatu termasuk spam. Yang bukan apa dong? Gimana cara ngiklan murah yang masih etis menurut elo?”

    “Kayaknya yang tersisa sekarang adalah pasang signature. Ini mirip dengan masang stiker mobil atau pake kaos bertuliskan sesuatu. Sejauh ini sih orang-orang masih menganggap itu sopan. Gak tau deh kalo udah kebanyakan. Barangkali orang juga bakal jenuh dengan sig komersil.”

    “Well, kalo gitu elo pasang sig ya bantuin promosi perusahaan kita!” todong Edo.

    Wibi hanya menjulurkan lidah.

    “Hei, kalo gue bikin milis diskusi apa misalnya, Linux kek atau web design kek atau hardware kek, lalu gue nyepam milis gue sendiri. Boleh gak?”

    Dasar bandel. “Ya silakan aja, tapi rasanya milis elo gak akan laku dan member yang ada pun bakal keluar.”

    Suasana hening sejenak.

    “Dan tentu saja gak etis kalo elo masuk-masukin orang ke milis elo secara sepihak. Itu kembali masuk dalam kategori unsolicited alias tidak dikehendaki.”

    “Oh.”

    Hari sudah semakin sore. Dari pojok ruangan terdengar suara lagu rap saluran MTV. Mbak Mien entah ke mana, biasanya jam segini dia suka mengganti saluran mencari-cari telenovela.

    “Eh, ini Lil’ Flip ya kalo gak salah.”

    “Kayaknya,” balas Edo sambil meraih bungkus nasi yang tadi ditinggalkan oleh Mbak Mien. “Tumben elo tau.”

    “Gak. Kebetulan gue pernah liat video klipnya.”

    “Oh, yang garing itu kan,” ingat Edo. Video klip yang dimaksud melukiskan usaha kedua penyanyi grup rap itu untuk memenuhi tantangan menghabiskan 1 juta dolar dalam 24 jam. “Di zaman sekarang, apa sih susahnya menghabiskan duit berapa pun. Orang-orang udah dilatih untuk komersil begini.”

    “Kayak elo. Tapi emang bener juga. Gue heran kok ada pepatah “tak habis tujuh turunan.” Kasih gue satu juta, sepuluh miliar, satu triliun. Semua bisa kok abis dalam sehari.” gurau Wibi. Sambil berkata begitu ia menarik kursi di sebelah meja Edo dan menyalakan komputer. Sebelum duduk Wibi masih sempat mengamati Edo men-save file Excel yang berisi email-email yang tadi dikumpulkannya. Barangkali untuk dijadikan anggota milis ‘gadungan’ yang bakal dia buat. Namun Wibi sudah lupa pada masalah CDROM yang semula ingin dipinjamnya. Mungkin baru sore nanti dia ingat lagi. (sh)

    [Last-Modified: Fri Nov 29 14:46:16 2002]

    Arsip mwmag[Files]  [Up]www.master.web.id/mwmag