| Arsip mwmag | [Up] | © 2002 PT Masterweb Media |
Sebetulnya aku tidak benci-benci amat pada kamu. Ada beberapa skrip kamu yang bagus dan berguna. Form validation misalnya, bisa membantu para webmaster untuk menyaring pesan-pesan yang masuk ke email mereka. Atau skrip tanggalan yang membuat pengunjung tak perlu lagi membeli jam tangan. Ada juga skrip kalkulator yang membantu kita di situs belanja online untuk melakukan perhitungan sederhana atas rencana belanja mereka.
Tapi coba kamu lihat kejengkelanku ketika mengunjungi sebuah situs yang setia sekali menggunakanmu. Ketika baru masuk, aku langsung disapa dengan kotak kecil yang memaksaku menulis nama. Ketika kuketik Goblok dan kuklik OK, kamu segera menyapaku seperti ini, Halo, Goblok. Kamu sudah mengunjungi situs ini sebanyak 1 kali! Hm, tahu enggak sih kamu? Skrip seperti itu cuma membuat repot dan menghabiskan waktu saja, padahal tak jelas fungsinya apa.
Lantas tiba-tiba pula, akses situs itu jadi lambat. Apa yang terjadi? Oh, ternyata ada pop up window buatanmu yang jadi biang keroknya. Situs itu harus menunggu si pop up ini selesai loading, barulah akses kembali normal. Okelah! Kamu boleh bilang bahwa itu adalah cara untuk menarik perhatian. Tapi itu juga membuat akses Internet jadi lambat, dan menunggu bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Apa kamu tidak punya cara yang lebih manis untuk mencari perhatiah, heh?
Setelah proses loading selesai, kugerakkan mouse. Tapi astaga! Apalagi ini? Ada sejumlah huruf yang meliuk-liuk mengikuti ke mana saja mouse bergerak. Inilah salah satu sisi kewanitaanmu yang genit dan tidak kusukai. Buat apa sih kamu menciptakan skrip yang norak seperti itu?
Belum sempat kemarahanku usai, muncul lagi pop up window berikutnya secara mendadak, membuatku terkejut. Bunyinya, Would you set this site as your homepage? Oh, tidak! Kunamai saja ini sebagai skrip salesman, yang mungkin dipakai oleh situs-situs yang kekurangan pengunjung. Buat apa aku menjadikan situs yang baru kukenal sebagai default homepage? Kurang kerjaan kali ye!
Okelah, kucoba memaklumi semua pekerjaanmu yang kurang kerjaan itu. Lalu aku mulai browsing. Ketika menemukan kalimat menarik, kucoba mengklik kanan untuk membloknya. Shit! Kini kamu mengancamku dengan kotak kecil, No Right Click, Please! Tahu enggak sih kamu? Ini adalah skrip kamu yang paling tidak berguna. Sebab tanpa klik kanan pun orang-orang masih bisa menyalin seluruh isi situs yang menggunakan skrip ini. Lucunya, ada pula situs yang mencantumkan skrip ini di halaman depan, tapi di halaman-halaman dalam tidak dicantumkan. Padahalkalau tujuannya untuk menghindari pencurian konten situsjustru halaman-halaman dalamlah yang perlu diberi skrip ini. Sementara halaman depan hanya berisi headline yang tak perlu dirisaukan jika diambil orang. Jadi, coba deh kamu memberi penataran dulu kepada pada para penggunamu, agar mereka bisa memanfaatkan skrip-skrip buatanmu secara efektif dan tepat guna.
Kesabaranku mulai habis, tapi aku masih mencoba bertahan. Kuarahkan kursor ke sebuah link, kucoba mengintip alamat URL-nya. Tapi begitu tatapan mata kuarahkan ke status bar, kenapa aku tidak melihat alamat URL apapun? Aku hanya melihat sebaris scrolling text yang berisi penjelasan tentang konten di balik link tersebut. Betapa pelitnya kamu, Javascript! Buat apa sih kamu menutup-nutupi hal sepele seperti itu? Takut ketahuan ya, kalau situs itu cuma redirect URL dari sebuah URL yang sangat panjang?
Hm, tampaknya aku mulai bosan melihat dan menikmati (dengan terpaksa) skrip-skrip buatanmu yang tak berguna itu. Kucoba untuk pergi dari situs itu, kuklik tanda silang yang terletak di pojok kanan atas jendela browser. Tapi, astaga! Ternyata kamu belum puas mengerjaiku. Dengan sok akrabnya kamu menyapaku lagi, Would you add this site to your Favorites? Huh! Ternyata kamu masih punya stok skrip salesman yang lain, dan ini juga tak kalah menjengkelkan. Sok akrab banget sih kamu? Aku tadi mengunjungi situs itu bukan karena suka, melainkan karena tidak sengaja, atau salah mengklik. Pernah juga aku mengunjungi situs tertentu hanya karena penasaran apa isinya. Setelah melihat-lihat, aku tak menemukan satu hal pun yang berguna, lantas kutinggalkan begitu saja. Jadi buat apa kamu menawariku untuk memasukkan situs-situs seperti itu ke dalam list Favourites-ku? Boro-boro! Apalagi jika sampai dijadikan default homepage. Mimpi kali yee!
Hai JavaScript! Kukira kamu harus belajar banyak tentang konsep hak privasi berinternet. Orang-orang tak mau dipaksa-paksa, tak mau disuruh-suruh. Jika mereka menyukai suatu situs, mereka akan memasukkannya ke list Favorites, atau bahkan menjadikannya default homepage, tanpa diminta atau dipaksa oleh siapapun. Jadi buat apa kamu bertindak seperti salesman norak seperti itu?
Okelah! Mulai besok, aku akan sangat setia menunggu sejumlah script-mu yang bagus; Berguna untuk netter dan desainer web. Aku sangat menyukainya. Terima kasih, JavaScript! Tapi untuk skrip-skrip-mu yang useless seperti itu, masukkan saja ke keranjang sampah. Oke?
Jonriah Ukur adalah pengamat Web yang tidak habis pikir melihat sejumlah skrip atau desain yang tak berguna. Untuk menghubungi Jonru, silakan kunjungi situs pribadinya di www.jonru.com.
[Last-Modified: Sat Aug 10 16:28:44 2002]
| Arsip mwmag | [Up] | www.master.web.id/mwmag |