Arsip mwmag[Files]  [Up]© 2002 PT Masterweb Media

Tutorial Tipografi Bagian 2:

Anatomi, Keluarga, Times

  1. Istilah-Istilah Anatomi
  2. X-height
  3. Istilah Anatomi Lainnya
  4. Keluarga Tipe
  5. Times
  6. Bahan Jalan-Jalan Kali Ini

Figures

  1. Anatomi dasar huruf
  2. X-height berbagai tipe
  3. Contoh teks dengan font berbeda x-height
  4. Stroke, stem, serif, terminal
  5. Beberapa istilah anatomi huruf lain: apex, arm, counter, ear
  6. Keluarga tipe Times New Roman
  7. Oblique vs Italic
  8. Outline vs Bold
  9. Outline+Oblique vs Bold+Italic
  10. Contoh teks keluarga Times

 

Pada bagian pertama kita telah mengenal apa itu tipe serta perbedaan serif dan sans serif. Bagian kedua ini akan membahas anatomi huruf, apa itu style dan keluarga tipe, serta mengenal lebih jauh keluarga tipe Times.

Istilah-Istilah Anatomi

Di Gambar 1 Anda bisa melihat anatomi dasar huruf. Baseline adalah garis maya yang menjadi lantai sebagian besar huruf. Tidak semua huruf harus tepat berlandaskan di baseline. Kalau Anda lihat dengan teliti, hurut “t”, “p”, dan “q” tipe Helvetica tersebut agak melewati garis baseline sedikit ke bawah. Kemudian capline (“capital line”) adalah istilah untuk garis maya yang menjadi batas atas huruf-huruf kapital. Garis ini juga hanyalah patokan saja, bukan berarti tidak boleh ada bagian huruf yang melebihi capline. Coba Anda cetak atau tampilkan di layar monitor huruf “f” Helvetica—atau beberapa tipe lain—maka Anda akan melihat tingginya sedikit lebih dari capline. Huruf “k” juga, meskipun tidaklah terlalu sering, tingginya lebih dari tinggi huruf kapital. Sah-sah saja.


Fig 1. Anatomi dasar huruf

Kalau capline adalah garis patokan untuk tinggi huruf kapital, maka meanline adalah patokan tinggi untuk huruf kecil. Sementara bagian tangkai huruf kecil yang melewati ke atas meanline disebut ascender (contohnya tangkai utama huruf “d” pada Gambar 1) dan bagian tangkai yang melewati ke bawah baseline disebut descender (contohnya tangkai utama huruf “p”). Seperti telah disebutkan sebelumnya, ascender dan descender dapat bebas melebihi capline dan baseline sesuai selera atau desain si perancang tipe.

X-height

Biasanya huruf yang dijadikan patokan huruf kecil adalah huruf “x”. Karena itu jarak antara baseline dan meanline disebut dengan x-height. Jika Anda perhatikan di Gambar 2, maka perbandingan x-height dengan tinggi huruf kapital (alias, jarak baseline-capline) bervariasi. Ada font teks yang memiliki x-height relatif besar, seperti Georgia, dan ada yang relatif lebih kecil, seperti Adobe Garamond. X-height merupakan salah satu faktor penting bagi legibilitas (keterbacaan), yaitu kemudahan suatu huruf dikenali secara visual.


Fig 2. X-height berbagai tipe

X-height yang cukup besar—asal tidak terlalu besar—membantu legibilitas, menunjukkan bahwa identitas huruf banyak berada di daerah x-height dan pada huruf kecil. Agar membantu keterbacaan, x-height yang besar juga biasanya disertai dengan tangkai-tangkai ascender yang cukup tinggi, agar membantu membedakan huruf kapital dan huruf kecil.

Sementara x-height yang terlalu besar justru dapat mengurangi keterbacaan, apalagi jika kurang didukung faktor lainnya. Contohnya adalah font Haettenschweiler, yang memiliki x-height amat besar (81%) dan BerhardFashion, yang memiliki x-height amat kecil (36%). Haettenschweiler misalnya, jika digunakan sebagai font teks, akan sangat memberatkan mata karena selain faktor x-height, hurufnya memang sempit, juga goresan-goresannya terlalu tebal, dan bentuk hurufnya kotak-kotak sehingga sulit membedakan huruf-huruf berbentuk lengkung dan huruf-huruf siku. BernhardFashion pun demikian; meskipun dilabeli sebagai BT (book type), namun ia bukanlah tipe ideal untuk teks pada umumnya apalagi pada ukuran-ukuran kecil sebab ini berarti x-heightnya menjadi ekstra kecil dan sulit dilihat. Lihat Gambar 3.


Fig 3. Contoh teks dengan font berbeda x-height

Di Gambar 3, x-height font Georgia yang lebih besar membuatnya tampil lebih padat dan gelap ketimbang Adobe Garamond. Ini karena daerah putih di atas tinggi huruf kecil lebih sedikit, sehingga lebih sering terisi. Contoh kasus lainnya adalah di lembaran-lembaran majalah mwmag, yaitu saat tipe huruf teks diganti dari Adobe Garamond (di edisi 4 dan sebelumnya) ke Officina Sans (di edisi 5, 6). Selain ketebalan goresannya yang lebih, Officina Sans juga memiliki x-height yang lebih besar sehingga tampil lebih padat dan penuh.

Istilah Anatomi Lainnya

Gambar 4 adalah pelengkap Gambar 1, menerangkan bagian-bagian umum sebuah huruf. Sebuah huruf dibentuk dengan goresan-goresan (stroke). Goresan pertama biasa disebut dengan basic stroke, contohnya goresan vertikal pada huruf “E”. Di ujung stroke huruf-huruf bertipe serif, seperti telah dibahas pada bagian tutorial sebelumnya, akan dijumpai tangkai atau hiasan yang disebut serif. Sementara pada tipe sans serif, ujung stroke polos-polos saja dan biasa disebut terminal. Gambar 5 menjelaskan lagi bagian-bagian huruf tertentu, yang banyak memakai istilah seperti badan manusia. Apex adalah ujung lancip huruf “A”. Arm adalah goresan horisontal pada huruf “T”. Ear adalah cuplikan di huruf “g” pada sebagian besar font serif. Counter adalah ruang negatif yang terbentuk dalam sebuah huruf, seperti pada huruf “p” atau “c”. Daftar istilah yang lebih lengkap bisa Anda jumpai misalnya di halaman Web ini: www.adobe.com/support/techguides/printpublishing/typography_basics/letterform_anatomy/main.html. Sempatkanlah membacanya untuk mengetahui sebutan untuk bagian-bagian dalam sebuah huruf.


Fig 4. Stroke, stem, serif, terminal


Fig 5. Beberapa istilah anatomi huruf lain: apex, arm, counter, ear

Keluarga Tipe

Kalau Anda mengintip direktori font Windows misalnya, maka kemungkinan besar Anda akan melihat empat buah file font bernama times.ttf, timesbd.ttf, timesbi.ttf, dan timesi.ttf. Mengapa empat buah file font untuk menyimpan informasi font “Times New Roman”? Karena sebetulnya Times New Roman bukanlah satu tipe, melainkan satu keluarga tipe, yang terdiri dari empat buah tipe. Cobalah perhatikan Gambar 6. Bisakah memperhatikan perbedaan jenis huruf keempatnya? Kalau masih belum jelas, cobalah melihat Gambar 7, Gambar 8, dan Gambar 9.


Fig 6. Keluarga tipe Times New Roman


Fig 7. Oblique vs Italic


Fig 8. Outline vs Bold


Fig 9. Outline+Oblique vs Bold+Italic

Pada Gambar 7 bagian atas, kita memiringkan sumbu x huruf Times New Roman biasa—alias huruf Times yang bukan bold maupun italic, atau yang disebut juga “roman”—ke kanan. Efeknya adalah, huruf tersebut tampil miring ke kanan. Tapi perhatikan Gambar 7 bagian kanan bawah, di mana kita benar-benar menggunakan tipe Times New Roman Italic. Huruf “Q” maupun huruf “a” tipe Times Italic jenisnya sama sekali berbeda dengan huruf Times yang roman—perhatikan ekor huruf “Q” italic dan bentuk perut huruf “a” italic. Huruf-huruf pada Times Italic tidak dibentuk dengan hanya memiringkan tipe romannya, melainkan benar-benar bentuk dan jenis yang berlainan.

Pada Gambar 8 bagian atas, kita memberi border/outline pada huruf roman sehingga hasilnya, di bagian kanan atas, huruf menjadi lebih tebal. Tapi di Gambar 8 bagian kanan bawah kita benar-benar menggunakan tipe Times Bold. Lagi-lagi, Times roman dan Times Bold merupakan dua tipe berbeda. Perhatikan karakter bintang pada Times Bold, jumlah pucuknya menjadi lima dan pucuk-pucuknya pun tidaklah terlalu tebal seperti jika kita memberi border. Begitu juga, serif-serif Times Bold tetaplah lancip tidak menjadi tumpul seperti jika kita memberi border.

Pada Gambar 9 Anda bisa melihat perbedaan yang sama antara huruf Times roman yang dimiringkan dan dioutline dibandingkan dengan Times Bold Italic. Times Bold Italic adalah tipe yang berbeda dari Times roman; ini bisa dilihat dari karakter bintangnya yang tetap tegak, juga landasan huruf “i” telah berubah.

Jadi, ada empat buah tipe untuk Times New Roman, masing-masing untuk versi roman, bold, italic, dan bold italic. Keempat tipe ini, meskipun dinamai Times New Roman dan dimaksudkan untuk dipakai berbarengan, namun oleh desainernya secara hati-hati telah dibuat berbeda agar tetap tampil serasi. Lihat perbandingannya dalam teks di Gambar 10.


Fig 10. Contoh teks keluarga Times

Kadang-kadang, di komputer kita sebuah keluarga tipe tidaklah lengkap file-file fontnya. Misalnya, kita mengkopi file font dari komputer rekan kerja, tapi lupa mengambil semua font di keluarga ybs. Jadi hanya ada times.ttf. Jika kita ingin membentuk huruf miring, maka program atau OS bisa mensimulasikannya dengan cara memiringkan sumbu x atau memberi outline. Versi miring jadi-jadian ini disebut “oblique.” Seperti bisa dilihat pada Gambar 10, kita kadang-kadang melihat teks oblique di surat kabar, majalah, atau barang cetak lainnya—padahal sebetulnya ada tipe khusus italicnya. Huruf oblique ini, apalagi jika tingkat kemiringannya cukup besar (lebih dari 15 derajat), tidaklah tampil optimal. Sayang sekali, sebagian desainer tidak menyadari bahwa salah satu file fontnya hilang, sehingga menghasilkan huruf-huruf yang oblique dan tidak optimal. Semoga kini Anda bisa melihat perbedaan oblique dan menggunakan tipe italic sebisa mungkin.

Tentu saja, tidak semua keluarga tipe memiliki versi italic. Jika Anda benar-benar butuh huruf yang tampil miring, maka oblique menjadi salah satu solusinya.

Times

Nama lengkap: Times New Roman (dari perusahaan Monotype) atau Times Roman (nama dari Linotype).

Jenis: serif, transisional.

Perancang: Stanley Morison.

Latarb belakang dan sejarah: Bersama Arial, Times barangkali adalah keluarga tipe yang paling banyak Anda jumpai di halaman-halaman web maupun di materi cetak—sampai-sampai beberapa desainer bosan setengah mati melihatnya. Ini karena font TTF Times New Roman termasuk yang pertama-tama dikemas Microsoft di sistem operasinya (Windows 3.1) sehingga menjadi tipe serif default. Nama “Times” berasal dari nama surat kabar terkenal di Inggris, The Times, dan memang dibuat khusus untuk media tersebut. Dirancang pada tahun 1931 oleh desainer yang terkenal sebagai pakar tipografi, Stanley Morison, dan digambar oleh Victor Lardent dari Monotype Corporation. Menurut Stanley, “Ketebalan, karakteristik, dan pengaturan lebar/ukuran Times disesuaikan dengan kebutuhan editorial surat kabarnya.” Stanley bersama Monotype menyusun beberapa anggota keluarga Times, antara lain Italic, Condensed, dan Headline. Times diinspirasi oleh tipe huruf yang telah popular sebelumnya yaitu Plantin.

Karakteristik: Karena termasuk tipe transisional, tingkat kontrasnya—perbedaan ketebalan antara stroke yang tebal dan tipis—cukup tinggi. Serifnya pun tajam-tajam. Ascender dan descendernya pendek.

Pertimbangan pemakaian: Times banyak dipakai untuk teks bodi majalah dan koran. Saya menganjurkan Anda mencari dan mencoba tipe lain dulu sebelum memutuskan menggunakan Times karena saat ini Times terlalu overused.

Pertimbangan kombinasi: Times cocok dikombinasikan dengan tipe-tipe sans serif seperti Arial, Futura, Gill Sans, atau Impact. Karena formal, Times tidak cocok dipadankan dengan Comic Sans misalnya.

Bahan Jalan-Jalan Kali Ini

Situs. Identifont, www.identifont.com, adalah situs direktori font. Fitur unik situs ini adalah setiap font telah didata karakteristik huruf-hurufnya, sehingga dengan menjawab sederetan pertanyaan mengenai huruf-huruf yang Anda jumpai di sebuah logo atau teks, Anda bisa mencari font apa yang digunakan logo tersebut. Pertama-tama Anda akan ditanya huruf apa yang Anda punya (mis: “mwmag”). Lalu misalnya ditanya, huruf tersebut miring atau tegak. Lalu huruf “g”-nya memiliki telinga atau tidak. Lalu ketebalan huruf seperti apa, dst. Jika ada pertanyaan yang tidak bisa Anda jawab, Anda pilih saja “Not Sure” dan Identifonrt akan menyuguhkan pertanyaan lain. Sistem pakar di Identifont akan terus memberi pertanyaan sampai ia bisa mempersempit jumlah ‘tersangka’ hingga di bawah sekitar 30 typeface. Baru setelah itu Anda dapat membrowse dan memilih dengan manual sampai ditemukan ‘si dia’ yang Anda cari.

Dengan database berisi lebih dari 4000 font, ada kemungkinan yang cukup besar font yang ingin Anda temukan bisa terlacak di sini. Saya telah mencoba tiga buah logo (situs “detikcom”, koran “REPUBLIKA”, dan kondom “Sutra”) dan berhasil menemukan font yang digunakan masing-masing logo, meski mencari type Italic sedikit lebih susah ketimbang tipe Roman. Kemungkinan memperoleh hasil dengan sistem Identifont pun biasanya lebih baik daripada sistem lain yang mencoba mengenali langsung file logo GIF atau JPG kita. Ditambah lagi, sambil mencari kita bisa belajar mengenal karakteristik huruf.

Dalam mencari font, akan membantu jika Anda memiliki gambar yang cukup mendetil, sebab kadang ditanya apakah ujung huruf “A”-nya runcing atau tidak, atau apakah serifnya satu arah atau dua. Sulit menjawabnya jika Anda hanya punya logo berukuran 100x100 piksel misalnya. Oke, selamat mencoba. (slm)

[Last-Modified: Sat Aug 10 22:31:01 2002]

Arsip mwmag[Files]  [Up]www.master.web.id/mwmag