Arsip mwmag[Files]  [Up]© 2002 PT Masterweb Media

Gaji dan Kepuasan Kerja “Kuli” TI

  1. Gaji, Rahasia?
  2. Berapa Gaji Minimum, Rata-Rata, Maksimum?
  3. Fasilitas Lain dan Waktu Kerja
  4. Kepuasan Terhadap Gaji dan Pekerjaan
  5. Harapan Terhadap Pekerjaan
  6. Ngelaba?
  7. Penutup

Figures

  1. Pengisi survey berdasarkan kota
  2. Pengisi survey berdasarkan usia
  3. Gaji dasar bulanan untuk Jakarta (merah) dan total (hitam)
  4. Gaji rata-rata per bidang pekerjaan untuk Jakarta (merah) dan total (hitam)
  5. Gaji rata-rata per kelompok usia untuk Jakarta (merah) dan total (hitam)
  6. Fasilitas yang diberikan perusahaan
  7. Persentasi perusahaan yang memberi fasilitas, berdasarkan ukuran perusahaan (dalam jumlah karyawan)
  8. Kepuasan terhadap gaji dan pekerjaan
  9. Harapan kuli TI terhadap pekerjaannya
  10. Patutkah saya mendapat gaji lebih dari sekarang?

 

Bagi seorang karyawan, apakah ada hal yang lebih penting dari gaji? Bahkan, di zaman sekarang ini, apakah ada hal yang lebih penting dari uang? Tentu saja sebetulnya ada. Tapi dua kalimat retorika di atas barangkali tepat untuk menggambarkan kondisi ekonomi dan gaya hidup materialistis/hedonis yang kita hidupi saat ini. Karena itulah kali ini mwmag mencoba mengangkat topik seputar gaji.

Sayang sekali, survey gaji yang dipasang mwmag di https://survey.mwmag.com, yang semula ingin mengetahui profil gaji karyawan “core” TI (alias para “kuli” TI) di beberapa kota besar di Indonesia, hanya diikuti oleh 100 peserta. Nyaris semua pria dan 58% di antaranya mengaku sebagai pekerja di Jakarta. Peserta kota-kota lainnya hanya sedikit, sehingga praktis tidak bisa mewakili. Tapi bagaimana pun juga, dari hasil yang telah masuk, ada beberapa hal menarik yang bisa kita amati. Staf mwmag pun meminta pendapat pribadi beberapa rekan praktisi, yang mana karena sifat opininya cukup pribadi—seputar gaji dan komentar terhadap rekan kerja dan atasan—maka sebagian besar identitas narasumber kami sembunyikan.

Definisi karyawan “core” atau “kuli” oleh mwmag yaitu mereka-mereka yang bekerja full time—bukan freelancer atau part timer—di dunia TI yang menangani langsung urusan teknis komputer: mengerjakan pemrograman, membuat desain Web, dan mengadmin komputer/jaringan. Yang jelas bukan termasuk golongan kuli adalah level manajer ke atas, baik manajer teknis maupun benar-benar manajemen. Yang juga tidak termasuk adalah mereka-mereka yang ada di bagian penjualan, marketing, HRD, atau divisi pendukung lainnya.

Gaji, Rahasia?

Bukan hanya di negara kita saja, di negara-negara maju seperti Amerika pun tradisi menutup-nutupi berapa gaji seseorang sudah melekat. Besarnya gaji adalah perkara pribadi dan tabu bagaikan besarnya, maaf, alat vital. Padahal ukuran kurang lebihnya seringkali bisa terlihat dari apa yang “tersembul”—dari barang yang Anda beli atau dari mobil dan harta yang Anda punya.

Bagi si karyawan ybs dan bagi rekan-rekan kerjanya secara umum adalah memang paling baik kalau gaji itu tidak perlu disebutkan persisnya berapa. Begitu kita mengetahui gaji si A misalnya, pasti tidak akan terhindarkan akan timbul rasa iri atau tidak suka seandainya kita melihat si A malas-malasan atau hanya bekerja sekian jam per hari—sementara kita sendiri yang bergaji sama atau bahkan lebih rendah, rasanya bekerja lebih berat dan berdedikasi lebih besar buat perusahaan. Meskipun gaji bukan faktor pertimbangan utama Anda dalam pekerjaan—misalnya bagi Anda yang penting bisa dapat koneksi Internet atau bisa bermain-main dengan komputer 20–24 jam sehari—namun kecenderungan membanding-bandingkan itu akan timbul.

Tapi bagaimana pun juga, kalau kita tidak tahu berapa kisaran kasar gaji-gaji karyawan dalam perusahaan kita, atau bagaimana perbandingan gaji kita dengan gaji teman-teman, atau berapa gaji rata-rata di pasaran, maka kita amat berpotensi mengalami underpaid. Apalagi jika kita masih hijau di lapangan pekerjaan, baru bekerja pertama kali, dan tidak pandai bernegosiasi sewaktu wawancara. Apakah kita ingin dibayar lebih rendah dari seharusnya? Tentu tidak.

Di Indonesia pun, mengetahui gaji rata-rata untuk bidang pekerjaan Anda lebih sulit. Orang-orang kita cenderung sensitif sekali soal gaji. Survey jarang diadakan. Dan juga, iklan-iklan lowongan pekerjaan lokal hampir tak pernah menyebutkan rentang gaji yang mungkin didapat untuk sebuah posisi.

Kebanyakan dari mereka yang ingin mempekerjakan orang biasanya bertanya kepada rekan-rekannya berapa gaji pasaran. “Saya bertanya-tanya kepada perusahaan sejenis. Dan memang sebagian profesi—sepengetahuan saya—sudah ada patokan gajinya,” aku Mico Wendy, pemimpin perusahaan desain web berbasis Bandung-Jakarta bernama Net Dsign. Jadi mengapa calon karyawan/yang dipekerjaan pun tidak mencari tahu berapa kisaran rata-rata atau berapa yang diperoleh rekan-rekannya?

Karena itu, yang disarankan adalah kita membuka informasi gaji kita kepada teman-teman atau rekan kerja yang dekat dan dapat dipercaya. Minimal kita perlu mengetahui gaji 1 orang rekan kerja di perusahaan yang sama, kalau bisa 2 atau 3. Bertukar cerita soal gaji dan fasilitas perusahaan pun penting antar teman yang berbeda tempat kerja. Sikap malu membicarakan gaji harus ditepis, karena bisa merugikan diri Anda kalau Anda tidak memperoleh informasi yang cukup.

Tapi anda Anda saat ini masih cukup malu untuk mengetahui berapa gaji teman-teman, mari kita lihat hasil survey kecil-kecilan mwmag.

Berapa Gaji Minimum, Rata-Rata, Maksimum?

Gambar 1 dan Gambar 2 menyajikan profil pengisi survey. Lebih dari separuh pengisi adalah dari Jakarta. Mayoritas pengisi berusia 20–24 tahun (48%) diikuti 25–29 tahun (35%). Hanya 7 orang pengisi mengaku wanita. Gaji dasar bulanan para pengisi ada di Gambar 3. Garis merah menunjukkan profil total seluruh pengisi, sementara yang merah untuk Jakarta saja. Gambar 4 dan Gambar 5 masing-masing menunjukkan besarnya gaji rata-rata untuk bidang pekerjaan dan kelompok usia (merah dan hitam masih menunjukkan Jakarta dan total). Dari tiga gambar terakhir Anda dapat mengira-ngira apakah Anda termasuk di bawah, ke dalam, atau di atas rata-rata.


Fig 1. Pengisi survey berdasarkan kota


Fig 2. Pengisi survey berdasarkan usia


Fig 3. Gaji dasar bulanan untuk Jakarta (merah) dan total (hitam)


Fig 4. Gaji rata-rata per bidang pekerjaan untuk Jakarta (merah) dan total (hitam)


Fig 5. Gaji rata-rata per kelompok usia untuk Jakarta (merah) dan total (hitam)

Untuk gaji Jakarta, rentang gaji yang paling umum adalah antara 1–1,5 juta/bulan (24%), diikuti 1,5–2jt (19%). Sementara untuk rata-rata total, rentang yang terumum adalah 1–1,5jt (19%), diikuti 1,5–2jt (13%) dan 0,75–1jt (12%).

“Sulit hidup dengan gaji hanya 1jt di Jakarta,” aku seorang desainer web di Jakarta yang pendatang dan hidup di kos. “Kamar kos saja 150–200 ribu, apalagi makan bisa sampai 400–600 ribu lebih. Dan yang juga berat banget, transpor. Dengan gaji segitu gak akan bisa afford taksi atau bis AC deh.” Memang, 1jt nampaknya pas-pasan sekali kalau ingin hidup di Jakarta. Ingin pakai telepon pribadi atau punya koneksi sendiri di rumah, ingin pakai HP, atau ingin sering nonton atau jalan-jalan? Sebaiknya lupakan saja. Sebisa mungkin Anda harus pakai fasilitas kantor; kalau tidak, sulit untuk membiayai segala macam rekening dan biaya tadi.

Gaji rata-rata programer web lebih tinggi daripada desainer, sysadmin, maupun programer nonweb. Ini bisa menunjukkan bahwa demand terhadap programer lebih tinggi atau kurang terpenuhi dibandingkan desainer. Bisa pula memberi petunjuk bagi Anda yang belum memilih bidang, bahwa menjadi programer barangkali bisa lebih menjanjikan. Dan awet pula. “Masalah di desain adalah, setiap saat selalu tumbuh orang-orang baru yang mau dibayar murah. Sehingga kalau tender, kita gak bisa menyaingi harga mereka. Mungkin proyek itu proyek pertama atau kedua atau ketiga mereka, sehingga mereka juga sekalian sedang mengumpulkan portofolio,” tutur seorang desainer yang mengepalai sebuah firma desain yang cukup ternama di Jakarta.

Seperti bisa dilihat di Gambar 3 dan telah dikonfirmasi oleh mwmag kepada beberapa narasumber, kisaran gaji 6–7jt kurang lebih adalah titik mentoknya para kuli TI. Hanya sebagian kecil saja programer atau desainer, terutama di Jakarta atau Bali, yang gajinya bisa di atas situ. Dan itu pun harus sudah senior, bekerja di perusahaan tertentu (mis: portal atau perusahaan asing), atau untuk kasus-kasus tertentu (katakanlah misalnya, teman/saudara bos, dsb). Perusahaan portal seperti M-Web (PMA) memang terkenal gaji karyawannya di atas rata-rata. Penyebab utamanya adalah karena pada saat dotcom rush (1999–2000), perusahaan-perusahaan dotcom yang baru bermunculan berebut programer web dan desainer web. Demand naik, tarif pun tentu naik. “Iya, saya ingat ‘masa-masa indah’ dulu, ketika Astaga! baru muncul dan dipimpin oleh Jonathan Morris. Banyak teman-teman yang direkrut melalui berbagai cara—mulai dari menggunakan jasa headhunter, dari ajakan teman, atau malah ditelepon Jonathan langsung,” kata Steven Haryanto, kepala editor mwmag. “Gaji yang ditawarkan Astaga! memang di atas rata-rata saat itu,” kata seorang narasumber pemilik perusahaan software development di Jakarta mengiyakan. Tidak aneh kalau programer atau DBA bisa di atas 7–10 juta rupiah di Astaga! “Bahkan Jonathan Morris sendiri dikabarkan sempat menyesali hal ini saat dia meninggalkan Astaga! dan membuka perusahaan web development. Kenapa? Sebab orang-orang yang diwawancara jadi minta gaji tinggi!” Selain itu, untuk perusahaan asing memang standar gajinya berbeda. Bisa mencapai belasan juta rupiah. Tapi untuk kelas kuli TI dan di rata-rata perusahaan lokal, rentang atasnya memang sekitar 6–7jt. Untuk naik lagi, Anda harus berposisi manajer atau sekalian pindah ke manajemen.

Fasilitas Lain dan Waktu Kerja

Selain gaji, ada berbagai fasilitas yang ditawarkan oleh kantor yang penting menjadi bahan pertimbangan Anda dalam memilih pekerjaan. Gambar 6 memperlihatkan beberapa fasilitas ini. Ini tidak termasuk fasilitas yang sudah pasti ada/umum, misalnya komputer kantor, koneksi Internet, atau telepon/faks di kantor. Anda dapat membandingkannya dengan perusahaan Anda sekarang, apakah termasuk pemberi banyak fasilitas atau sedikit. Lebih dari separuh peserta mengaku memperoleh uang makan (52%) dan asuransi kesehatan (59%). Kendaraan atau ponsel termasuk sedikit diberikan, yang mana wajar karena modus pekerjaan desainer/admin/programer tidaklah mobile seperti divisi marketing/sales.


Fig 6. Fasilitas yang diberikan perusahaan

Gambar 7 menunjukkan persentasi perusahaan yang memberikan fasilitas yang paling umum, menurut ukuran perusahaan (berdasarkan jumlah karyawan). Adalah kebiasaan umum di Indonesia saat ini bahwa perusahaan yang kecil sekali (jumlah karyawan di bawah 10 orang) jarang atau tidak pernah memberikan fasilitas asuransi kesehatan. Ini bisa menjadi pertimbangan penting bagi Anda, apalagi jika Anda memiliki masalah kesehatan atau sudah mulai berumur. Biasanya fasilitas ini kurang diperhatikan karena rata-rata kuli TI berumur muda dan belum menikah. Padahal suasana di ruang AC dan di depan komputer terus-menerus bukanlah kondisi yang ideal. Apalagi kalau waktunya amat lama atau malam hari. Menurut hasil survey, 31% bekerja dengan jam kerja tidak teratur dan 13% bekerja di malam hari. 36% pengisi mengaku bekerja lebih lama dari waktu standar (8 jam) per hari yaitu 9–10 jam sementara 11% mengaku lebih lama lagi, 11–12 jam per hari.


Fig 7. Persentasi perusahaan yang memberi fasilitas, berdasarkan ukuran perusahaan (dalam jumlah karyawan)

Selain itu, menurut survey, 46% mengaku kadang-kadang bekerja di hari Minggu (11% cukup sering dan 43% tidak pernah). Tapi 36% tidak bekerja di hari Sabtu, sementara 25% setengah hari, 23% kadang-kadang saja, dan hanya 14% yang mengaku bekerja juga di hari Sabtu.

Kepuasan Terhadap Gaji dan Pekerjaan

Kalau gaji rata-rata telah kita ketahui, bagaimana dengan tingkat kepuasan karyawan kuli TI dengan besar gaji sedemikian (Gambar 8)? 58% merasa kurang puas dengan gajinya, 24% sama sekali tidak puas, dan hanya 18% yang merasa cukup puas. Besar kepuasan ini ternyata tidaklah terlalu kuat korelasinya dengan besarnya gaji yang diterima saat ini, yang kemungkinan berarti bahwa ekspektasi orang terhadap gaji memang berbeda-beda.


Fig 8. Kepuasan terhadap gaji dan pekerjaan

Soal kepuasan kerja (Gambar 8 area warna biru), 42% merasa cukup puas. 47% memang merasa kurang puas, 5% sama sekali tidak puas, tapi 6% sudah sangat puas. Kepuasan kerja ternyata tidak ada korelasinya dengan besar gaji, menunjukkan bahwa gaji bukanlah faktor utama bagi seseorang untuk menilai betah atau tidak betah dalam kerja. Tapi, kepuasan terhadap gaji merupakan faktor yang penting untuk kepuasan kerja. Yang lalu berkorelasi juga terhadap kepuasan kerja adalah penghargaan perusahaan terhadap hasil kerja diikuti oleh penghargaan perusahaan terhadap diri pribadi. Mayoritas pengisi mengaku dirinya cukup dihargai di tempat kerja (70%), 18% merasa kurang dihargai, 10% merasa sangat dihargai, hanya 2 yang mengaku amat tidak dihargai. 60% merasa hasil kerjanya cukup dihargai, 25% kurang dihargai, 12% sangat dihargai, hanya 2 yang mengakui pekerjaannya amat tidak dihargai.

Sebagian narasumber tetap berpendapat gaji adalah faktor yang paling penting. “Gaji menurut saya termasuk yang paling penting,” tutur seorang karyawan perusahaan hosting di Jakarta. Narasumber ini memang merasa gaji di Indonesia sangat rendah. Sehingga wajar pula kalau dirinya merasa pekerjaan tidak dihargai.

Secara umum, jika beban kerja dirasa terlalu berat, maka kepuasan kerja, dan terlebih lagi kepuasan terhadap gaji, menurun. Menunjukkan bahwa rata-rata pengisi merasa bahwa beban kerja yang diterima memang harus dibayar oleh gaji yang lebih tinggi. Tapi dibandingkan kepuasan terhadap gaji, beban kerja lebih tidak mempengaruhi kepuasan kerja. Yang menunjukkan bahwa rata-rata pengisi cukup menyukai tantangan dan mencintai pekerjaannya. Dan ini nampaknya didukung pula oleh jumlah karyawan kuli TI yang merasa beban kerjanya tidak berat. 69% menjawab tidak berat dan hanya 31% menjawab ya.

Harapan Terhadap Pekerjaan

Gambar 9 menunjukkan harapan kuli TI terhadap pekerjaannya. Yang menarik disimak, sebanyak 44% berharap job descriptionnya dipersempit. Banyak perusahaan masih mencampur desain dan pemrograman, pemrograman dan admin, atau pemrograman dengan arsitek software/analis. Sehingga 31% responden mengaku cukup sering harus melakukan pekerjaan di luar job descriptionnya (misalnya: programer web mendesain halaman-halaman HTML). 45% kadang-kadang, dan 16% malah mengaku sering sekali ketiban tugas ini. Responden paling banyak mengharapkan gajinya bisa naik antara 20–50%.


Fig 9. Harapan kuli TI terhadap pekerjaannya

Ngelaba?

Kalau gaji sudah mentok, apa lagi yang mau dikata? Padahal merasa dirinya patut mendapat gaji yang lebih dari sekarang (Gambar 10).


Fig 10. Patutkah saya mendapat gaji lebih dari sekarang?

Pertama, Anda bisa cari penghasilan di luar. Cara ini nampaknya paling banyak dipraktikkan, karena mencari pekerjaan baru tidaklah mudah. 60% responden mengaku kadang-kadang terima sampingan, 18% sering, tapi 22% tidak pernah. 35% mengaku penghasilan sampingannya lebih kecil dari gaji bulanan, 29% kurang lebih sama, dan 26% mengaku dapat lebih besar.

Kedua, Anda bisa mempertimbangkan mencari pekerjaan tetap lain. Sebanyak 60% pengisi survey menyatakan dirinya mempertimbangkan pekerjaan lain, meskipun tidak aktif mencari. 32% aktif mencari pekerjaan lain, misalnya dengan melihat situs lowongan/milis/iklan di koran dan mengirim-ngirimkan resumenya. Hanya 8% yang mengaku tidak mencari pekerjaan lain.

Penutup

Demikian hasil survey. Pesan terakhir kami, selalulah mengupdate CV/resume Anda, karena Anda tidak pernah tahu kapan resume tersebut dibutuhkan. Bisa saja besok, bisa juga hari ini.

[Last-Modified: Mon Aug 19 21:01:14 2002]

Arsip mwmag[Files]  [Up]www.master.web.id/mwmag