| Arsip mwmag | [Up] | © 2002 PT Masterweb Media |
Membayar dengan transfer umum dilakukan oleh konsumen di Indonesia, terutama untuk transaksi retail online, untuk membayar kepada penjual-penjual berskala kecil, dan untuk membayar jumlah transaksi yang tak banyak (misalnya, di bawah 500 ribu1 juta rupiah). Ini berlainan dengan di Amerika misalnya, di mana penggunaan kartu kredit dan cek begitu dominan dalam membayar barang.
Artikel ini membahas kelebihan dan kekurangan metode pembayaran transfer bagi penjual online, dan mencoba memberikan tip bagaimana menerima pembayaran transfer dengan baik.
Yang dimaksud pembayaran transfer dalam artikel ini sebetulnya adalah penyetoran dana ke rekening tabungan/giro milik penjual, baik dari rekening tabungan/giro di bank yang sama milik pembeli, maupun kliring dari rekening pembeli di bank lain, atau setoran tunai langsung pembeli ke cabang bank penjual yang terdekat. Penjual cukup memberitahukan atau mengumumkan nama bank dan nomor rekeningnya di bank tersebut, maka pembeli sudah dapat melakukan pembayaran lewat salah satu cara yang telah disebutkan sebelumnya.
Sementara metode pembayaran lain yang umum adalah pembayaran dengan cek, wesel, kartu kredit, dan kartu kredit. Bagian ini membahas sekilas metode-metode pembayaran tersebut.
Pembayaran dengan cek adalah cara membayar di mana pembeli yang memiliki rekening giro (checking account) dan menandatangani kertas cek beserta nama penerima (alias, si penjual) dan berapa jumlah yang ingin dibayarkan. Cek ini menyatakan kesediaan pembeli membayar sejumlah uang kepada penjual. Cek ini lalu diberikan atau dikirimkan kepada pembeli dan dapat diuangkan atau dijadikan dana tabungan ke bank penerbit cek (alias, bank si pembeli). Di Indonesia menurut peraturan pemerintah setiap cek yang ditulis perlu diberi materai Rp 6000,- sehingga cara pembayaran ini kurang ekonomis untuk jumlah pembayaran yang kecil dan sering. Lagipula, tidak semua orang memiliki rekening giro. Namun keuntungan cek bagi si pembeli adalah dapat melakukan pembayaran tunda (cek mundur), limit jumlah pembayaran dapat cukup besar (sesuai besar dana di rekening giro), dan lebih praktis (dibandingkan transfer, tidak perlu repot-repot menyetor dana ke rekening milik si penjual).
Pembayaran dengan wesel yaitu pengiriman dana yang menggunakan jasa pihak ketiga, umumnya kantor pos (wesel pos). Pengirim menyetor sejumlah uang beserta sejumlah biaya kirim ke kantor pos terdekat serta menuliskan alamat penerima dana. Kantor pos di kota tujuan akan mengirimkan surat kepada penerima bahwa ada kiriman uang untuknya. Penerima datang ke kantor pos, membawa bukti diri dan menarik uang dari kantor pos. Meski biaya relatif murah dan dapat melakukan pengiriman secara meluas kepada setiap orang, namun cara ini kurang popular sebagai metode pembayaran, mungkin karena kurang praktis (harus mendatangi kantor pos secara fisik) dan dipandang kuno.
Pembayaran dengan kartu debit (check card) yaitu pembayaran dengan mengurangi langsung dana dari rekening tabungan bank. Pembeli menyerahkan kartu kepada penjual untuk digesek di alat terminal, lalu mengetikkan PIN. Alat terminal akan berkomunikasi dengan server di bank. Jika otentikasi berhasil dan tersedia cukup dana di rekening tabungan pembeli, maka transaksi dilakukan dan rekening pembeli didebet (dikurangi). Rekening penjual akan dikredit (ditambah) nanti, dan pihak bank memungut sejumlah uang jasa. Pembayaran cara ini popular di mal atau pusat perbelanjaan. Keuntungannya adalah tidak perlu membawa uang kontan. Namun terdapat limit jumlah yang dapat dibelanjakan per hari. Dan sampai saat ini kehadiran kartu fisik dibutuhkan dalam transaksi sehingga tidak ada situs etail yang dapat menerima kartu debit untuk transaksi online.
Pembayaran dengan kartu kredit adalah cara yang paling popular untuk transaksi online. Meskipun sama-sama menggunakan kartu dan terminal seperti kartu debit untuk transaksi offline, namun dalam transaksi online hanya dibutuhkan nomor kartu kredit dan sejumlah data kartu/pembeli lainnya. Sehingga rata-rata penjual online, terutama di luar negeri, menggunakan cara ini.
Dalam transaksi kartu kredit terlibat pihak lain sebagai perantara yaitu perusahaan kartu kredit, seperti Visa atau Mastercard. Dan dalam transaksi online umumnya terlibat lagi pihak keempat yaitu processing gateway. Masing-masing pihak ini memberikan jasa pemrosesan dan menarik sejumlah biaya. Jadi uang akan mengalir dari bank si pembeli, ke perusahaan kartu kredit, lalu ke processing gateway, baru nanti ke bank si penjual (via transfer langsung atau via cek dari si processing gateway). Waktu mengalir ini kadang-kadang lama, hingga lebih dari satu dua bulan. Kerugian lain, si penjual harus membayar processing fee atau discount rate ke tiap-tiap pihak penyedia jasa dalam rantai ini. Lalu, dalam transaksi online nomor kartu kredit bisa dipakai sembarang orang dan mengakibatkan seringnya terjadi transaksi unauthorized (dilakukan oleh orang yang tidak seharusnya). Jika sampai pihak pembeli memberikan charge back (meminta kembali dananya karena transaksi pembelian sebelumnya unauthorized), maka lagi-lagi pihak penjual akan menderita denda.
Meskipun terdapat kerugian dan biaya yang harus ditanggung penjual, transaksi kartu kredit ini amat memudahkan pembeli, termasuk juga keringanan karena pembayaran ke bank si pembeli dapat dilakukan 30 hingga 60 hari kemudian. Dan karena popular digunakan pembeli itulah, maka mau tidak mau penjual perlu bisa menerima pembayaran menggunakan kartu kredit. (Dan karena itu, semakin kayalah perusahaan kartu kredit dan bank penerbit kartu).
Selain metode-metode di atas, terdapat bentuk pembayaran lain seperti PayPal; namun tidak akan dibahas di sini.
Infrastruktur yang ada. Meskipun mungkin bagi penjual atau pembeli terdapat beberapa keuntungan lebih yang ditawarkan metode pembayaran lain, namun pembayaran dengan metode transferlah yang paling umum hingga sekarang di tanah air. Ini karena telah adanya infrastruktur yang bisa digunakan. Di Indonesia, puluhan juta orang telah memiliki rekening tabungan. Bank retail terbesar, BCA, memiliki sekitar 8 juta nasabahsebagian besarnya adalah nasabah tabungan. Diikuti oleh BNI (6,1jt), Bank Mandiri (6jt), LippoBank (3,5jt). Sementara mungkin baru sekitar 0,51% penduduk yang memiliki kartu kredit. Dan dari jumlah itu pun, baru sedikit sekali pemilik kartu yang aktif menggunakan kartunya untuk berbelanja. Dari survey-survey yang dilakukan, masih cukup banyak orang yang merasa takut menggunakan kartu kredit di Internet.
Bandingkan dengan di Amerika misalnya. Sebagian besar warganya telah menggunakan kartu kredit, bahkan lebih dari satu. Dan sudah banyak pula yang memiliki rekening cek selain tabungan. Sehingga kartu kredit dan cek menjadi dua metode pembayaran utama. Bangsa Amerika memang telah terbiasa dengan transaksi nontunai bahkan sejak abad ke-19. Orang Indonesia sendiri masih tertinggal level gaya hidup finansialnya. Rata-rata baru mentok di tabungan dan deposito.
Sebaliknya, jumlah bank di Amerika sangat banyak. Sehingga tidaklah praktis memiliki rekening salah satu bank saja dan mengharapkan mayoritas pembeli memakai bank yang sama. Kliring dana antarbank butuh biaya yang lumayan. Di Indonesia, dengan memiliki rekening di BCA saja sudah cukup banyak pembeli sesama pengguna BCA yang dapat mentransfer dana dengan mudah dan murah.
Tidak perlu modal. Bagi penjual, cukup memiliki rekening di salah satu bank maka sudah bisa menerima uang. Bandingkan dengan kartu kredit atau debit, di mana kita perlu menyewa terminal, mendaftar merchant account, dan menggunakan jasa processing gateway. Banyak penjual online skala kecil yang tidak mampu atau tidak sudi membayar biaya awal ini, karena omzet mereka pun amat terbatas.
Tidak ada biaya membayar. Membayar dengan transfer ke rekening lain di bank yang sama tidak dikenai biaya. Menyetor tunai ke bank pun tidak dikenai biaya (namun sekarang jika banknya berlainan kota, maka Anda dikenai biaya antara Rp 2500,- hingga Rp 10.000,-). Masih lebih murah daripada wesel atau cek.
Tidak ada biaya menerima. Menerima dana tidak dikenai biaya oleh bank. Bandingkan dengan kartu kredit, di mana penjual akan dikenai biaya pemrosesan yang besarnya bisa >2,53% dari jumlah transaksi. Karena itu penjual-penjual barang elektronik seperti di mal biasanya membebankan biaya ini kepada pembeli, merasa marjin keuntungan mereka yang tipis akan habis kalau dipangkas lagi biaya pemrosesan. Sehingga banyak pembeli pun ogah harus ditibani biaya.
Dana langsung tersedia. Jika antarbank, umumnya pemindahan dana terjadi instan. Jika kliring antarbank, umumnya 13 hari. Bandingkan dengan cek atau kartu kredit di mana penjual baru bisa menerima uangnya hingga berbulan-bulan kemudian.
Relatif mudah. Dengan kehadiran Internet banking 23 tahun terakhir, melakukan transfer amat mudah. Cukup rekening di salah satu bank, PC atau laptop, dan koneksi Internet. Bandingkan dengan wesel atau cek, di mana kita harus mendatangi kantor pos atau mengirimkan cek lewat pos.
Jarang ada transaksi palsu. Dari pengalaman di online store mwmag, biasanya jika ada orang mengirim email atau faks pemberitahuan telah membayar, si ybs memang benar-benar telah membayar. Bandingkan dengan kartu kredit misalnya, di mana banyak terjadi transaksi unauthorized yang berujung-ujung dibatalkan atau bahkan dicharge back. Malah, seperti disebutkan sebelumnya, ada juga konsumen nakal yang sengaja melakukan charge back.
Tidak ada jaminan. Dibandingkan dengan kartu kredit, pembelian dengan mentransfer dana ke rekening penjual sebetulnya tidaklah terjamin. Apalagi kalau penjual bukanlah orang yang Anda kenal. Setelah Anda mentransfer uang ke penjual, sulit sekaliatau bahkan mustahilbisa menariknya kembali. Apalagi jika kemudian si penjual ini ternyata penipu yang lalu menarik uang dari rekeningnya lalu menutup rekening tersebut dan melarikan diri. Dengan kartu kredit, selama masa waktu 1-2 bulan Anda masih bisa membatalkan transaksi atau meminta bank melakukan charge back. Umumnya bank selalu berpihak kepada konsumen sehingga charge back berhasil dilakukan. Bahkan sebagian kecil konsumen ada yang menyalahgunakan ini dan seenaknya melakukan charge back dengan alasan yang dibuat-buat, padahal barang telah diterima dan jasa telah digunakan.
Transaksi tidak selalu jadi. Dengan kartu kredit, transaksi pembelian dapat diselesaikan langsung secara online. Jadi begitu checkout dari shopping cart, pembeli langsung mengisi informasi kartu dan menekan tombol Submit/Process. Transaksi pun terjadilah. Sebaliknya, dengan pembayaran transfer, selesai checkout pembeli hanya menerima invoice beserta keterangan nomor rekening bank penjual. Tidak semua orang meneruskan transaksi yang belum selesai ini dengan mengakses Internet banking/pergi ke ATM/mengunjungi bank untuk membayar. Bergantung dari cara penjual memberi informasi atau menggunakan kata-kata dalam email invoice, maka persentasi orang yang membayar bisa antara 50%75% atau bahkan lebih rendah.
Laporan dan tracking. Rekening tabungan sebetulnya bukan rekening yang khusus untuk menerima uang pembelian. Laporan yang disediakan bagi penjual minim dan kadang tidak rinci. Apalagi jika transfer dana dilakukan secara tunai dan berita yang dikirimkan tidak jelas. Sulit melacaknya. Bandingkan dengan transaksi kartu kredit di mana nomor kartu pasti tercatat dan penjual pun menerima laporan rinci barang-barang apa yang dipesan beserta transaksi yang bersangkutan. Namun dengan beberapa tip yang akan dijelaskan nanti, dan dengan bantuan jasa Internet banking, rekening tabungan kita bisa cukup andal dipakai semudah rekening giro.
Bagi pembeli pun laporan yang ada minim. Kalau Anda tidak rajin mencatat, di akhir bulan Anda bisa bingung untuk apa saja entri-entri transfer yang Anda lakukan di bulan tersebut. Bandingkan dengan transaksi yang khusus untuk pembayaran, di mana di laporan mutasi sudah tercatat untuk apa.
Rekening terpisah. Ini yang paling penting. Sebisa mungkinuntuk menghindari kebingungan karena tercampurnya berbagai jenis transaksipisahkanlah rekening pribadi Anda dengan rekening yang khusus untuk menerima pembayaran. Meskipun ini berarti Anda harus membuka dua atau lebih rekening di bank yang sama atas nama orang atau perusahaan yang sama. Kalau Anda punya dua buah toko atau jasa online, alangkah baiknya juga memisahkan masing-masing ke rekeningnya tersendiri. Selain mudah melakukan pelacakan, Anda juga bisa memberikan akses kepada staf untuk mengecek atau memanage rekening khusus ini.
Bank mana? Sudah pasti, Anda sebagai penjual harus dapat mempermudah pembeli dalam melakukan transfer. Karena itu memiliki rekening bank BCA bisa dibilang wajib. Dengan memiliki rekening di BCA, sekian juta orang pengguna BCA dapat menggunakan www.klikbca.com untuk melakukan pembayaran kepada Anda. Tapi BCA bukanlah bank mayoritas tunggal. Kalau Anda ingin lebih mempermudah orang membayar, Anda bisa juga membuka rekening giro atau tabungan di Bank Mandiri atau Lippo misalnya. Ini tidaklah wajib, karena andai pembeli bukan nasabah BCA pun, ia tetap dapat membayar dengan cukup mudah yaitu mengunjungi cabang bank BCA di berbagai lokasi. Lagipula bagi Anda sebagai penjual, mengecek banyak rekening setiap hari butuh waktu dan tenaga ekstra. Kalau Anda menerima pembayaran di lebih dari satu rekening, maka catatan pembukuan terpisah wajib diadakan. Kalau Anda hanya menggunakan BCA misalnya, maka Anda bisa saja cukup mengkopi paste hasil mutasi setiap bulan dari KlikBCA atau BCA Link ke file Excel dan menambahkan satu kolom catatan.
Mendidik pembeli untuk mengkonfirmasi. Banyak pembeli yang tidak mengetahui sifat cara pembayaran seperti ini. Mereka menganggap, jika telah melakukan transfer kepada rekening tabungan seseorang, maka orang tersebut otomatis tahu dan dengan jelas dapat mengetahui pesanan mana yang dimaksud. Sehingga mereka kadang tidak mengirimkan email atau faks konfirmasi sama sekali setelah membayar. Di online store mwmag, jumlah pembeli yang seperti ini memang kecil, di bawah 5%. Tapi bergantung pula kepada Anda untuk memberikan instruksi yang jelas. Misalnya di mwmag, setiap kali order telah disubmit, maka calon pembeli akan menerima email yang berisi daftar pesanannya dan sekaligus keterangan bahwa setelah membayar, harap email tersebut direply untuk memberitahu mwmag bahwa pesanan ybs telah dibayar.
Mendidik pembeli untuk mengkonfirmasi dengan benar. Kadang-kadang, pembeli pun tidak tahu harus mengkonfirmasi lewat cara bagaimana. Ada yang menyecan resi ATM atau formulir setoran bank dalam format BMP uncompressed (yang besarnya segede gajah itu) lalu mengattachnya. Ada yang mengcapture screenshot KlikBCA atau Internet Banking. Ada yang memforward email hasil jurnal transaksi Internet Banking. Ada pula yang memfax, berusaha menelepon, dan sebagainya.
Anda harus memberi instruksi yang jelas dan ringkas bagaimana cara melakukan konfirmasi. Umumnya kalau bank Anda memiliki fasilitas Internet banking, tidak diperlukan konfirmasi dalam bentuk hasil scan. Cukup tiga data ini saja yang diperlukan: 1) nomor rekening pengirim, atau nama pengirim yang sama dengan nama pemegang rekening; 2) tanggal pembayaran (jam umumnya tidak perlu); 3) jumlah persis yang dibayarkan; 4) nomor pesanan (order id). Jadi Anda bisa memberitahukan kepada calon pembeli, Setelah membayar, harap kirim email ke anu@anu.com. Saat mengirim email konfirmasi, sebutkan nama lengkap Anda, tanggal pembayaran, jumlah persis pembayaran, dan order id. Bisa Anda tambahkan pesan, Tidak perlu mengirimkan hasil scan atau hasil capture atau mengirim faks. Konfirmasi lewat faks pun umumnya kadang tidak membantu. Misalnya tulisan si pembeli seperti ceker ayam, atau ditulis dengan pensil tipis, atau ukuran hurufnya terlalu kecil sehingga tidak bisa kita baca. Jika Anda menerima konfirmasi faks, jangan lupa ingatkan pembeli agar menulis dengan huruf yang cukup besar dan tebal.
Order id adalah nomor atau kode yang unik untuk setiap pesanan. Jika Anda tidak mempunyai shopping cart, disarankan untuk segera memasang shopping cart agar dapat menghasilkan nomor unik ini. Jika tidak, setiap konfirmasi harus disertai data tanggal memesan dan barang apa saja yang dipesan.
Tanpa order id pun, kadang-kadang sulit mengetahui siapa nama pemesan yang sebetulnya. Misalnya, si pembeli mengisi shopping cart sebagai pemesan Anita Rahman <arachman@kantor.com>. Tapi waktu mengirim email konfirmasi, alamat From bahkan namanya pun berbeda (misalnya, From: nita genit <nita_genit@lycos.com> atau bahkan From: g3n337 <genit@astaga.com>). Kalau si pembeli hanya mengkonfirmasi Saya sudah membayar pada tanggal sekian. maka Anda akan sulit melacak siapa pemesan yang sebenarnya. Untungnya, dari pengalaman di mwmag, hanya sekitar 510% pembeli yang mengirim email dari From berbeda dengan yang di form pesanan.
Karena itu order id amat penting untuk mempermudah pelacakan. Di mwmag, setiap email yang dikirimkan hasil memesan mengandung order id di subjeknya. Sehingga bila si pembeli nanti mengkonfirmasi dengan mereply email tersebut, order id telah tercantum kembali di subjek email.
Mempermudah cara orang mengirimkan konfirmasi. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, mengirim bukti setoran lewat scan atau faks umumnya tidak perlu untuk pelacakan. Cukup email saja. Untuk mempermudah, Anda bisa menginstruksikan agar email yang telah Anda kirim sebagai tanda pesanan bisa direply langsung. Beberapa perusahaan web hosting juga menyediakan form web tempat kita dapat memasukkan data sebagai tanda konfirmasi.
Mendidik pembeli untuk mengirimkan berita setoran tunai dengan benar. Kalau pembeli Anda membayar lewat setoran tunai, biasanya ada berita berupa beberapa puluh huruf teks yang bisa ditambahkan. Berita yang perlu Anda instruksikan untuk disertakan oleh pembeli/pembayar sebetulnya hanyalah semacam ini, pembayaran untuk order id N atau untuk pesanan nomor N, di mana N adalah kode unik pesanan. Dengan demikian dari database di shopping cart Anda telah mengetahui siapa pemesan dan pesanan yang mana yang dibayar. Tanggal dan jumlah telah tertera di catatan mutasi.
Kadang kalau Anda hanya menjual satu atau sedikit produk, misalnya di online store mwmag yaitu hanya menjual majalah dan langganan 6 bulan atau 12 bulan, maka berita setoran tunai seperti pembayaran majalah mwmag atau pembayaran untuk produk X tidaklah membantu. Anda tetap kesulitan mencari pesanan mana yang dimaksud karena semua pesanan yang masuk memang untuk produk X tersebut, dan jumlah pembayarannya pun rata-rata sama. Karena itu yang penting di sini sekali lagi adalah mendidik dan menginstruksikan dengan jelas kepada pembeli agar mengirimkan berita setoran tunai yang tepat.
Mempermudah pelacakan. Kalau Anda menjual banyak jenis produk dengan harga berbeda-beda, maka kemungkinan setiap pesanan memiliki nilai total harga yang berbeda. Ini dapat membantu membedakan satu pesanan dari yang lain. Kalau ada setoran tunai tanpa berita dengan jumlah n rupiah misalnya, maka Anda bisa cukup mudah melacaknya karena pesanan sejumlah n rupiah dalam minggu atau bulan ini hanya ada satu atau dua. Anda lalu bisa mengkonfirmasikan lagi lewat email siapakah pembayar yang sebetulnya.
Sebaliknya, jika barang Anda hanya sedikit atau harganya sama semua, maka ada peluang cukup besar tiap pesanan jumlah harganya sama. Bila Anda menerima cukup banyak pesanan per hari (di atas 10), bisa pusing juga melacaknya. Karena itu Anda bisa menambahkan di sistem shopping cart Anda sejumlah angka rupiah kecil yang digunakan untuk meningkatkan keunikan harga total. Misalnya, dikurangi atau ditambah antara Rp1,- hingga Rp 10,- rupiah. Jadi jika harga barang total Rp 57.000,- maka pesanan yang satu nilainya Rp 56.994,-, pesanan lain harganya Rp 57.007,- dst. Kalau shopping cart Anda tidak memiliki fasilitas ini, Anda pun dapat menginstruksikan kepada pembeli agar melakukan hal ini. Misalnya, Untuk memudahkan pelacakan, harap tambahkan sejumlah Rp 1,- hingga Rp 10,- pada harga pesanan total Anda.
Meningkatkan persentasi transaksi yang jadi. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, transaksi pembelian dengan metode pembayaran transfer tidak bisa diselesaikan langsung secara online. Setelah memesan di situs web, pembeli harus mengunjungi situs Internet banking, atau malah harus beranjak dari kursinya dan pergi ke ATM atau cabang bank terdekat. Kalau hari ini hari Sabtu/Minggu/libur, atau sudah malam, maka pembayaran harus dilakukan esok hari. Pemesan dapat lupa membayar atau berubah pikiran.
Sebelum mwmag menggunakan sistem shopping cart seperti yang sekarang, dan hanya menggunakan form mail sederhana, persentasi transaksi yang jadi hanyalah 3040%. Artinya, dari 10 orang yang mengirimkan formulir pesanan, hanya 34 yang akhirnya jadi membeli atau berlangganan. Karena itu di shopping cart mwmag, programernya (Steven Haryanto) memasang instruksi yang lebih jelas di halaman web setelah order disubmit: Sekarang: jika Anda memiliki rekening di BCA, kunjungilah www.klikbca.com dan lakukan pembayaran ke nomor rekening sekian. Bahkan dulu dibuatkan beberapa halaman web frame untuk membantu pembeli melaksanakan hajatnya membayar, langkah demi langkah. Sayangnya, mulai beberapa bulan terakhir situs www.klikbca.com menolak ditaruh di dalam frame, sehingga halaman web frame ini tidak dapat digunakan lagi.
Sejak menggunakan shopping cart, jumlah transaksi yang diselesaikan meningkat hingga 5075%. Namun tetap saja ada sebagian pemesan yang akhirnya tidak pernah membayar. Mungkin karena malas, mungkin karena berubah pikiran. Dari pengalaman di mwmag, Umumnya pembayar yang jadi/serius melakukan pembayaran di hari yang sama atau maksimum 12 hari setelah memesan. Jika sudah lewat 2 hari, maka kebanyakan pesanan terlantar.
Ada satu ide yang bisa Anda coba, yaitu yang biasa dipraktikkan oleh penjual barang-barang sejenis TV media, Jika Anda memesan saat ini juga, maka Anda akan mendapatkan bonus A, B, C, Tujuannya adalah untuk menggegaskan calon pembeli agar bertindak sekarang. Sebab semakin ditunda-tunda, semakin besar kemungkinan batal.
Jadi, Jika Anda mentransfer hari ini juga, maka kami akan mengirimkan bonus A, B, C beserta kiriman pesanan Anda. Berminat mencobanya?
Di masa yang akan datang, dapat diperkirakan bahwa metode pembayaran dengan kartu kredit dan debit akan lebih popular. Metode ini memang khusus diciptakan untuk transaksi pembelian barang, dan karena lebih menguntungkan bank maupun perusahaan kartu kredit/debit, maka akan terus dipromosikan. Tapi saat ini dan hingga beberapa tahun ke depan, kita masih bisa cukup yakin mengatakan bahwa metode transfer tetap yang paling banyak digunakan di Indonesia. Karena itu bila Anda penjual online skala kecil untuk konsumen di Indonesia, tidak perlu terburu-buru mendaftarkan merchant account. Cukup buka rekening tabungan atau giro di bank ternama dan gunakanlah metode pembayaran transfer. (lp)
steven.haryan.to/mutasi-klikbca/, skrip yang dapat dipakai untuk mempermudah pengambilan mutasi KlikBCA secara berkala. Pernah dibahas di edisi 4 mwmag.
Beberapa contoh instruksi pembayaran yang bisa Anda tiru: https://backroom.mwmag.com/faq.html, www.davidsmagic.com/01caramembeli.html, www.indokado.com/bayar.html.
Penulis mengundang diskusi atau pertanyaan lain dari pembaca seputar menerima pembayaran transfer di milis mwmag-fans@yahoogroups.com. Kirimkan email kosong ke mwmag-fans-subscribe@yahoogroups.com untuk menjadi anggotanya.
[Last-Modified: Sat Aug 10 12:40:27 2002]
| Arsip mwmag | [Up] | www.master.web.id/mwmag |