| Arsip mwmag | [Up] | © 2002 PT Masterweb Media |
Tidak biasanya, sejak akhir Mei 2002, tiba-tiba PLN menjadi topik hangat di sejumlah milis TI berbahasa Indonesia seperti genetika@yahoogroups.com, toekangweb@yahoogroups.com, warz@yahoogroups.com, dan pau-mikro@sekolah2000.org. Para anggota milis itu pada ramai menyebut-nyebut nama penguasa monopoli setrum nasional itu. Kenapa jadi kesetrum begitu?
Tidak lain tidak bukan kehebohan tersebut muncul gara-gara kabar soal kabel listrik PLN yang dapat digunakan untuk mengalirkan data dan voice, termasuk bisa untuk berinternet, seperti halnya kabel telepon milik Telkom. Bagi yang sudah bosan dan muak dengan mantan pelaku monopoli jaringan telepon lokal itu, jelas jadi girang dengan adanya alternatif yang menggunakan teknologi Power Line Communication (PLC) tersebut.
Meskipun cukup banyak yang antusias soal itu, namun tidak sedikit juga yang pesimis dan menganggap ada maksud tersembunyi di balik rencana PLN untuk memasarkan koneksi Internet via kabel listrik yang dimilikinya itu.
Saya agak curiga dengan gerakan PLN mem-PLC-kan Internet ini, karena gembar-gembornya tidak dibarengi dengan kesiapan teknisnya, seolah-olah seperti hura-hura sebelum jaman dotcom collapse, mencari dukungan dana dan membuat onar pasar yang anteng-anteng, ujar Michael S. Sunggiardi di milis genetika@yahoogroups.com.
Pihak PLN sendiri, lewat anak perusahaannya yang bernama PT Indonesia Comnets Plus (ICON+), hingga kini masih melakukan field trial untuk 20 user di Durentiga dan tahap Proof of Concept untuk 400 user di Jakarta dan Bandung dengan user yang akan dipilih terlebih dahulu. Tahap komersialisasi akan kami lakukan dalam waktu dekat ini dengan tarif yang direncanakan adalah fixed rate, di mana dengan satu kali bayar dalam sebulan pelanggan dapat memakai jasa layanan ini sepanjang bulan pembayaran atau unlimited, kata seseorang dari bagian customer service ICON+ ketika dihubungi mwmag via e-mail.
Buat yang berminat, siap-siaplah harus membeli modem listrik, di mana terdapat Ethernet Connector (RJ45) untuk sambungan Internet dan telepon port (RJ11) dan NIC (LAN Card/Ethernet Card) 10/100 Base T yang diinstal pada PC. Perangkat yang harus dibeli via ICON+ tersebut berfungsi untuk mentransmisikan data dan voice melewati medan elektromagnetik yang dihasilkan oleh tegangan listrik sehinggakatanya sihtidak membahayakan untuk pemakaian di sisi pelanggan. Nantinya, dalam proses pentransmisian, modem listrik akan bekerja pada tegangan antara 85V sampai 285V dengan konsumsi listrik kurang dari 10 watt.
Sebenarnya yang bermasalah bukanlah ICON+ tapi PLN-nya karena menurut saya PLN bukanlah network provider, terutama di bidang telekomunikasi. ICON+ menggunakan jaringan PLN sebagai infrastruktur. Untuk itu, PLN harus punya lisensi network provider karena secara langsung menyelenggarakan infrastruktur jaringan telekomunikasi, komentar PatakaID, anggota milis genetika@yahoogroups.com lainnya.
Ia melanjutkan, Selama ini tidak diperlukan lisensi karena hanya dipergunakan internal. Kalau sekarang mau dimanfaatkan untuk umum harus mengajukan lisensi baru berikut dengan segala macam persyaratannya yang tidak sederhana. Ini bukan soal tidak percaya dengan PLN.
Namun jangan salah mengira kalau layanan yang akan ditawarkan ICON+ itu sudah termasuk koneksi Internet. Karena, Mengenai akses Internet gateway sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari penyelenggara jasa Internet yang melayani, tegas petugas layanan pelanggan ICON+.
Nah, kalau begitu benar dong dugaan Michael kalau, Konsepnya ingin mengikuti ADSL-nya Telkom, mereka sediakan infrastruktur, ISP berada di atasnya. Jadi, kalau mau pakai koneksi Internetnya PLN kita masih harus berlangganan produk bernama PLNplus. Masih tertarik?
Persoalan mengenai domain memang tidak ada habisnya dan kebanyakan selalu menarik. Apalagi kalau menyangkut domain lokal seperti .id yang sehari-harinya ditangani oleh IDNIC. Misalnya soal jual beli domain.
Adalah Hanna Ansary Sirait yang awal Agustus lalu sempat meminta pendapat dari para anggota milis IDNIC dan diskusidomain@yahoogroups.com soal domain cakra.co.id yang nampaknya mau dijual oleh pemiliknya. Menurut informasi yang terpasang di situs webnya, domain itu ditawarkan seharga 350 juta dan bagi yang berminat bisa menghubungi seseorang bernama Joel H.L di telepon selularnya.
Penawaran domain yang resminya dimiliki oleh PT. Inti Cakra Anugrah itu jelas mengejutkan. Selain besarnya harga yang ditawarkan, juga lantaran tidak lazim terdengar Top Level Domain (TLD) .id diperjualbelikan secara bebas begitu. Apalagi mengingat aturan pendaftarannya yang jauh lebih ketat dibanding gTLD macam .com, .net, dan .org yang bebas.
Menanggapi kasus itu, pihak IDNIC tidak tinggal diam. Dengan berpegang pada salah satu ketentuan yang termuat dalam formulir pendaftaran domain di situs web IDNIC di mana jika data-data yang diberikan tidak akurat (bohong) maka penggunaan domain bisa ditinjau kembali (dicabut), maka, Konsekuensi yang paling logis dan relevan adalah pencabutan pendelegasi domain tersebut, kata Indra K. Hartono, Domain Administrator co.id, dalam posting balasannya.
Lebih lanjut, ketika dihubungi mwmag, Indra mengatakan, Pada prinsipnya, saya tidak mau terburu-buru mengambil keputusan. Dalam menghadapi kasus semacam itu, biasanya kamipara admin domainsaling tukar pendapat dan pikiran sebelum memberi keputusan final. Termasuk di antaranya, menyerap aspirasi dari kalangan pengguna domain co.id lainnya yang turut aktif dalam milis IDNIC.
Makanya, pihak IDNIC hingga berita ini disusun belum dapat memutuskan tindakan apa yang akan diambil, apakah dibiarkan atau dicabut kepemilikannya. Tunggulah saatnya.
Saya rasa ada baiknya agar kita juga mendapat penjelasan dari pihak yang telah didelegasikan domain tersebut. Namun, saya tidak pernah ragu untuk bertindak tegas terhadap penyimpangan dalam penggunaan domain co.id karena dapat memberikan nilai tambah pada faktor keamanan atau aspek perlindungan konsumen, ujar Indra yang yakin tingkat keamanan dan kepercayaan pengguna domain co.id masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan gTLD .com/.net/.org pada umumnya.
Sebenarnya antisipasi atas kasus-kasus seperti itu sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu, termasuk di dalamnya antisipasi atas perselisihan (dispute) maupun penyimpangan yang disengaja ataupun tidak oleh pihak pengguna domain .id. Salah satu langkah yang diambil adalah terus-menerus memantau perkembangan aspek hukum cyber (cyberlaw) di Indonesia.
Yang pasti dalam aspek pengelolaan domain ccTLD-ID atau IDNIC adalah wilayah yang bebas politik serta bebas KKN, janji Indra. Ada yang tertarik menguji? He he he.
Atas nama keamanan, lagi-lagi isi kantong harus terkuras. Itulah yang harus dialami para pengguna rutin Internet Bankingnya Bank BCA alias KlikBCA sejak Juli 2002 lalu. Kenapa?
Ini gara-gara bank yang katanya terbesar di Indonesia itu menerapkan aturan baru yang mengharuskan setiap pengguna memiliki KeyBCA agar dapat bertransaksi lewat situsnya. Dalam email yang dikirim ke seluruh pengguna KlikBCA, disebutkan bahwa Untuk keamanan transaksi di KlikBCA, maka mulai Agustus 2002, seluruh transaksi finansial di KlikBCA (transfer dana, pembayaran tagihan, dan pembelian pulsa isi ulang) akan menggunakan KeyBCA.
Tanpa alat yang digambarkan berbentuk seperti kalkulator kecil yang akan mengeluarkan password yang selalu berganti setiap kali melakukan transaksi transfer dana, pembelian pulsa isi ulang dan pembayaran melalui KlikBCA itu, para pengguna hanya bisa melakukan transaksi nonfinansial seperti mengecek informasi saldo dan mutasi rekening. KeyBCA hanya bisa dapat digunakan oleh pemiliknya karena dihubungkan dengan user ID KlikBCA. Dengan demikian transaksi finansial yang dilakukan melalui KlikBCA menjadi jauh lebih aman, kata seseorang dari bagian HaloBCA kepada mwmag.
Dengan adanya peraturan seperti itu, mau tidak mau memaksa para pengguna yang aktif bertransaksi transfer sana-sini harus memiliki password generator itu daripada nantinya hanya bengong memandang informasi saldo saja. Buat 45 ribu pengguna aktif KlikBCA sih enak bisa dapat gratis saat awal peluncuran. Di luar itu, atas nama keamanan, para pengguna wajib membayar Rp. 50.000,- atau Rp. 100.000,- sesudah masa promosi.
Bagusnya, untuk pemakaian selanjutnya BCA tidak membebankan biaya administrasi bulanan untuk penggunaan KeyBCA. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan. Karena bukan tidak mungkin suatu saat bakal ada biaya bulanannya mengingat bank kelas kakap itu paling jagoan mengumpulkan recehan dari nasabahnya.
Adapun wilayah penggunaan KeyBCA tidak dibatasi untuk daerah tertentu saja sebagaimana dugaan sejumlah orang. Selama seseorang dapat mengakses KlikBCA maka KeyBCA dapat digunakan dimana saja, jelas pihak BCA menjawab pertanyaan mwmag.
Yang perlu diketahui juga, meskipun KeyBCA itu diharuskan untuk dibeli pengguna KlikBCA dengan alasan keamanan yang lebih baik, toh tetap tidak ada jaminan atau garansi dari pihak BCA sendiri atas kehebatan alat tersebut dalam melindungi keamanan transaksi di situs webnya. Jadi, setelah ini apa lagi biaya yang harus ditanggung pengguna kalau masih saja dianggap kurang aman? Biaya bulanan tambahan? Atau mungkin bakal diharuskan mengeluarkan duit lagi untuk membeli software khusus dengan nama GUIBCA, misalnya? Ugh!
Jika hal itu benar-benar dilaksanakan, dunia web bakal kelimpungan. Bisa jadi situs-situs web tidak akan segemerlap sekarang ini. Bahkan banyak situs yang mengandalkan foto-foto sebagai konten utamanya akan bergelimpangan atau berubah wajah menjadi situs berita. Para kolektor foto-foto indah pun akan merana karena semakin sulit menemukan buruannya di Internet, terutama yang gratis. Kalaupun ada, ukurannya akan lebih gede dari biasanya karena formatnya lain sehingga ruang hard disk bakal makin cepat habis.
Keadaan sebenarnya nanti mungkin tidak seburuk skenario di atas. Tetapi setidaknya itulah sedikit gambaran jika Forgent Networks jadi menerapkan sistem royalti atas penggunaan format JPEG untuk gambar dan foto full color.
Wow, pakai JPEG harus bayar? Begitulah rencana yang diungkap oleh perusahaan asal Texas itu pada sekitar pertengahan Juli kemarin. Rupanya keberhasilan Unisys dalam mengkomersialkan GIF sejak tahun 1999, membuat Forgent meneteskan air liur sehingga JPEG jadi incaran selanjutnya.
Saat ini, Forgent mengaku telah memiliki the sole and exclusive right to use and license all the claims under the 672 patent that implement JPEG in all fields of use except in the satellite broadcast business.
Bagi Forgent, fields of use itu meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Internet seperti kamera digital, PDA, browser, seluler yang bisa download gambar/foto, camcorder digital yang ada fungsi bikin gambar/foto (still image), scanner, dan peralatan lain yang digunakan untuk memanipulasi, mencetak, atau mengirim gambar/foto digital.
Gila juga bukan. Sepertinya semua bidang yang berhubungan dengan urusan foto digital tidak ada yang lepas dari sergapannya. Tetapi asal tahu saja sebenarnya hak paten atas JPEG yang bernomor 4,698,672 sudah diberikan kepada Compression Labs di tahun 1986 namun mereka ini tidak pernah ribut soal menarik royalti sampai akhirnya diakusisi oleh Forgent pada 1997.
Nampaknya Forgent cukup serius dengan rencana pemalakan itu. Sebagai langkah awal, mereka mulai mendekati raksasa-raksasa industri digital. Salah satunya adalah Sony Corp. Kabarnya, konglomerat asal Jepang itu sudah setuju membayar sebesar $15 juta untuk biaya lisensinya.
Kami sedang berunding dengan sejumlah perusahaan lain dari bidang kamera digital, printer, scanner, dan lainnya yang memanfaatkan teknologi JPEG soal urusan lisensinya, kata Richard Snyder, CEO Forgent. Kami ingin memastikan dunia industri dan masyarakat luas mengetahui dengan jelas mengenai syarat pemanfaatan teknologi kompresi data JPEG kami, salah satu dari sekian banyak teknologi yang ada dalam portfolio hak paten kami. Huh, dasar matre!
Di kalangan sebagian pengguna Internet bolehlah namanya agak jelek karena mutu layanannya yang dianggap kurang memuaskan. Namun tidak demikian menurut kalangan dunia bisnis. Nampaknya mereka masih cukup yakin dengan prospek usaha perusahaan yang satu ini. Setidaknya hal ini tercermin dari nilai sahamnya yang masih bisa mencapai $20 per lembar di bursa NASDAQ dalam beberapa minggu terakhir ini. Puncaknya adalah ketika eBay, situs web lelang terbesar, memborong habis sahamnya dengan jumlah total mencapai $1,5 milyar pada 8 Juli 2002.
Sudah bisa menebak apa nama perusahaan yang dimaksud dari tadi itu? Itulah PayPal, penyedia layanan pembayaran dan pengiriman uang online yang hingga kini dapat melayani pelanggannya di 32 negara. Bagi pihak PayPal, aksi borong itu jelas sangat menguntungkan. Selain karena yang mengakusisi adalah perusahaan besar juga merupakan suatu prestasi tersendiri mengingat mereka baru go public awal tahun ini.
Yang jelas, dengan adanya akusisi ini membuat kami akan dapat menawarkan kepada pelanggan kami fasilitas baru dan fleksibilitas dalam berbisnis. Penggabungan layanan-layanan kami merupakan win-win situation bagi jutaan pelanggan kami, kata Peter Thiel, Pendiri dan CEO PayPal, dalam rilis persnya.
Sementara bagi eBay sendiri, pembelian saham PayPal itu sendiri untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu dalam hal layanan pembayaran online. Beberapa waktu lalu raksasa asal San Jose, California itu membeli perusahaan sejenis bernama Billpoint sekitar Mei 1999, tetapi baru diluncurkan kembali tahun berikutnya. Sial bagi eBay. Bukannya berkembang, Billpoint malah kalah melawan pengaruh PayPal di pasaran. Akibatnya, dalam setahun kerugian yang harus ditanggung jumlahnya sekitar $1015 juta. Makanya, setelah mendapat penggantinya, akhir tahun ini unit bisnis yang satu itu bakal ditutup.
Layanan pembayaran online memang sangat penting buat eBay karena selama ini kebanyakan transaksi lelang yang terjadi hanya menggunakan cek dan money order. Kepada internetnews.com, CEO eBay Meg Whitman mengatakan bahwa dengan adanya akusisi ini akan membantu mempercepat proses transaksi pembayaran sehingga diharapkan dapat meningkatkan jumlah transaksi secara nyata.
Sulit memberikan angka spesifik, tapi peningkatan sekitar 6070% mungkin merupakan harapan yang realistis, ujar Whitman.
Saat ini, langkah terpenting yang harus dilakukan sang pemilik baru adalah memperbaiki reputasi PayPal yang belakangan ini memburuk di mata pelanggannya. Bahkan beberapa dari mereka malah sampai melancarkan class action segala gara-gara rekeningnya dibekukan.
PayPal punya banyak masalah di bagian customer service. Seandainya eBay bisa memberi sedikit perhatian soal ini, para pelanggannya bakal senang, kata Carrie Johnson, analis dari Forrester Research, soal perusahaan asal Mountain View, California yang barusan meluncurkan 1-2-3 PayPal Purchase Button Wizard for Microsoft FrontPage itu.
Yang menarik, belum apa-apa aksi borong eBay itu sudah menuai tuntutan dari sejumlah mantan pemegang saham agar membatalkan perjanjian tersebut. Dalam dua berkas tuntutan yang dimasukkan ke Pengadilan Delaware Chancery, dikatakan bahwa deal tersebut menunjukkan pelanggaran kewajiban perusahaan terhadap para pemegang sahamnya dan harga yang dibayar eBay untuk membeli PayPal tidak fair dan tidak wajar.
Menanggapi tuntutan itu, eBay dan PayPal merasa tidak perlu kuatir. Bagi mereka, tuntutan itu tidak pada tempatnya dan mereka akan melawannya dengan sungguh-sungguh. Jenis tuntutan seperti itu sudah umum tapi jarang berhasil, ujar Vince Sollitto, juru bicara PayPal dengan pede.
Ensim attack! Diam-diam demam Ensim sedang menyerang dunia web hosting Indonesia. Dari informasi yang ada, belakangan ini sudah cukup banyak yang terjangkit demam itu, baik dari kalangan bisnis maupun individual. Dari kalangan bisnis, setidaknya ada empat web hosting lokal yang sempat terdeteksi. Yaitu, A3plusmedia, Jagoweb, Exprezza, dan Plasa.com. Kecuali nama terakhir, semuanya kebetulan tergolong web hosting anyar karena baru beroperasi mulai sekitar pertengahan tahun ini.
Tenang, jangan buru-buru kabur atau menghindar dari mereka lantaran takut tertular. Ensim yang dimaksud itu bukanlah sejenis penyakit panu atau cacar air melainkan salah satu major label control panel untuk web hosting.
Bagaimanapun kehadiran Ensim di Indonesia merupakan suatu hal yang cukup mengejutkan mengingat selama ini pada umumnya web hosting lokal mengusung label CPanel atau Plesk sebagai control panel pelanggannya. Lihat saja, di barisan pemakai CPanel ada BWHosting dan Satria.com. Sedangkan untuk Plesk bisa disebut nama NeoCyber, Superwebhosting, dan Judistira. Beberapa di antaranya malah lebih memilih menggunakan buatan sendiri atau membeli hasil karya developer lokal seperti yang dilakukan oleh Master Web Network (MWN), Indoglobal.com, Bisnisweb, dan Techscape.
Ensim sendiri bukanlah nama baru dalam urusan control panel. Dibandingkan dengan Plesk yang baru nongol 1999, Ensim malah sudah hadir duluan setahun sebelumnya. Beberapa web hosting terkenal di luaran sana yang tercatat sebagai pemakai diantaranya RackShack, affinity, OLM, dan Superb.
Nah, kenapa akhirnya ada web hosting yang memilih Ensim? Apa sih yang menarik dari Ensim menurut mereka? Ensim sangat secure (memakai chroot), supportnya bagus, dan patchnya juga cepat tersedia. Harganya juga relatif lebih murah dari pada control panel yang sudah jadi lainnya. Selain itu, dengan adanya chroot membuat user mempunyai environment sendiri walaupun itu berarti extra space buat pihak webhoster, kata Erwin Danuaji, CEO Jagoweb yang membeli control panel itu langsung di online storenya.
Pertimbangan mengenai harga juga diakui oleh A3plusmedia meski hal itu bukan yang utama. Ya, soal harga juga jadi perbandingan. Namun yang lebih penting bagi kami, fitur-fitur yang ada di Ensim lebih mudah dimengerti. Apalagi untuk yang versi sekarang (3.1) sudah ada modul reseller di dalamnya sehingga memudahkan kita untuk memantau aktivitas reseller. Tetapi bukan berarti control panel yang lain tidak punya modul reseller lho. Sebelumnya kami sudah mencoba control panel yang lain termasuk Plesk dan CPanel, kata Ady Permadi, bos web hosting yang diresmikan pada Juli 2002.
Soal harga, Ensim memang murah dibanding control panel lainnya. Harga yang dipasang hanya $199 per server. Apalagi belinya sistem putus alias sekali bayar saja. Bandingkan dengan Plesk yang dijual sekitar $600$799 untuk unlimited domain atau CPanel dengan ongkos $59$99 perbulan.
Menyangkut fitur Ensim yang diandalkan, keduanya kompak menyebut multilevel user. Multilevel user memungkinkan seorang user membuat subuser baru lain lagi dengan batasan masing masing. Misalnya, pembatasan akses FTP, SSH, telnet. Selain itu integrasi menu yang tersedia sangat memudahkan user dalam membuat sendiri account mail pop/autoresponder, mailing list, file management, dan sebagainya, ujar Erwin yang mengakui kalau resource server yang diambil Ensim relatif lebih besar dibanding produk lainnya.
Jadi apakah si subuser itu bisa FTP/SSH/telnet atau tidak atau hanya urusan email saja, kita kembalikan ke pemilik domain/account tersebut, timpal Ady yang lebih dikenal dengan nick name Bi[G] itu.
Sementara dari pihak Exprezza dan Plasa.com nampaknya enggan memberi keterangan karena meskipun sudah berusaha dihubungi namun tidak ada tanggapan. Mungkin demam-nya sudah terlalu parah? Gawat!
Diam-diam persaingan antar control panel web hosting berlangsung seru. Masing-masing selalu bergiat menyiapkan versi-versi baru yang dilengkapi dengan fitur-fitur baru andalan untuk bisa merebut hati konsumen baru atau sekedar mempertahan yang sudah ada agar tidak berpindah ke produk milik saingan. Kejar-kejaran versi terbarupun tak terhindarkan. Salah satu yang sedang bersiap-siap merilis versi anyarnya adalah Plesk.
Jika tidak ada halangan, control panel yang hadir sejak 1999 itu bakal meluncurkan Plesk Server Administrator (PSA) 5.0 dan PSA 5.0 Master sekitar pertengahan Agustus atau awal September mendatang. Bagi para pengguna setia, selain menggembirakan, kemunculan versi terbaru itu mungkin akan sedikit membingungkan karena versi sebelumnya hanya berada pada angka 2.5.
Peloncatan jarak jauh hingga dua kali lipat ini memang mengejutkan dan menimbulkan tanda tanya. Tapi kalau kita melihat dari segi marketing, bisa dipahami bahwa perubahan ini adalah usaha mengejar ketertinggalan angka pada versi mereka dengan versi milik control panel lain. Sebab, dibanding dengan CPanel dan Ensimdua control panel top lainnyayang masing-masing hadir dengan versi 4.9 dan 3.1, posisi Plesk memang cukup tertinggal jika masih tetap mengandalkan PSA 2.5.
Dengan PSA 5.0 Master yang hadir sebagai tambahan dari PSA 5.0 untuk penanganan multiple server, Plesk ingin memberikan kebebasan seluas mungkin bagi penggunanya. Setidaknya hal itu tercermin dari sejumlah fitur-fitur andalan yang termuat di rilis anyar tersebut seperti kebebasan membuat skin sendiri (custom interface skin and new-button creation), custom plan tak terbatas, multiserver management console, multisystem monitoring, dan server reseller hosting.
Dengan satu login admin membuat saya dapat mengatur sekumpulan server. Fitur tersebut memberikan kebebasan bagi para reseller kami dalam menjual kembali space server kami dan tidak akan pernah perlu kuatir urusan mentraining seorang staf support dalam mengendalikan sistem mereka, ujar Rob Greenawalt, CEO WebReseller.net yang banyak memasarkan dedicated server dengan Plesk sebagai control panelnya.
Hal itu dibenarkan oleh George Pappas, presiden dan CEO Plesk. PSA 5.0 Master membuat para admin dapat menggabungkan manajemen dari sejumlah server ke dalam satu interface, kata bos perusahaan yang bermarkas di Chantilly, Virginia itu dengan nada promosi.
Yang jelas, meski harga jual yang bakal dipasang masih sama dengan versi 2.5 yaitu antara $199 sampai $799, versi 5.0 itu ketika dirilis nanti masih belum mendukung Red Hat Linux 7.3. Seperti biasa, tunggu saja patchnya! (ben)
[Last-Modified: Sat Aug 10 12:40:23 2002]
| Arsip mwmag | [Up] | www.master.web.id/mwmag |