| Arsip mwmag | [Up] | © 2002 PT Masterweb Media |
Kursus TI di Surabaya: Antara Tren dan Peluang Praktisi Pisang Goreng |
Sampai grup perusahaan properti sekelas Ciputra tergiur untuk ikut mendirikan kursus TI, berarti terbayang bukan bagaimana ramainya bisnis ini. Itulah yang terjadi di Surabaya. Memang, bisnis pelatihan komputer, Internet, dan bidang TI lainnya sedang booming di kota pahlawan dalam 12 tahun belakangan ini. Cukup banyak kursus yang memberikan pelatihan bidang TI bermunculan di mana-mana. Padahal sebelumnya bisa dibilang amat minim kursus seperti itu di Surabaya. Selama ini arek-arek Suroboyo cuma mengenal nama macam Scomptec dan PPSA saja untuk urusan pelatihan bidang komputer dan sejenisnya.
Bisa jadi keramaian macam itu mirip dengan yang terjadi di beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Para investor sedang giat mengucurkan uang untuk membuka tempat pelatihan TI. Meskipun kalau dibandingkan dengan Jakarta, mungkin gaungnya masih tidak seberapa.
Yang menarik adalah keberadaan sejumlah perusahaan besar di balik bisnis kursus TI di Surabaya. Salah satunya, yang sudah disebut di awal artikel tadi, Ciputra Group. Untuk bisnis pelatihan ini, perusahaan properti kelas kakap itu mengusung nama Ciputra Cyber Institute, www.ciputracyberinstitute.com, sebagai merek dagang.
Kehadiran grup Ciputra dalam dunia kursus TI jelas mengundang tanda tanya besar bagi sebagian orang. Apakah hanya sekedar ikut-ikutan atau memang serius? Habis, antara properti dan kursus TI sebetulnya kurang nyambung.
Sebelum memutuskan masuk ke dalam bisnis ini, kami melakukan market research yang cukup lama. Tren yang diamati adalah dari demandnya, bukan tren yang lain, bantah Lendy Widayana, Academic Director Ciputra Cyber Institute (CCI).
Lebih lanjut, Lendi mengatakan alasan mereka membuka kursus TI karena Realitanya kebutuhan tenaga TI masih sangat kurang, dan mungkin akan kurang terus sampai kapanpun, karena TI menjadi semakin convergence dengan teknologi lain.
Selain itu, Di sisi lain, home/personal user juga akan bertambah terus karena semakin banyak orang yang memerlukan komputer sebagai alat bantu, tambahnya.
Makanya, dalam membangun CCI di Surabaya ini mereka tidak main-main. Tidak kurang dari lima milyar rupiah dikucurkan sebagai modal awal untuk membangun kursus TI yang bernaung di bawah Yayasan Ir. Ciputra itu. Sementara lokasi penyelenggaraan kursus dipilihlah komplek perumahan Kota Mandiri Citra Raya Surabaya yang cukup bergengsi. Tepatnya di Sentra Taman Gapura Kav 1 dengan mengambil luas tanah 5000 meter persegi dan luas bangunan 800 meter persegi.
Keseriusan lain tampak pada keputusan untuk tidak mengambil mentah-mentah sistem waralaba dari luar negeri yang dilakukan sebagian besar bisnis kursus TI di Indonesia pada umumnya. Dalam soal kurikulum, mereka memang bekerja sama dengan NCC Education asal Inggris. Bentuknya berupa materi pengajaran dan sertifikasi yang mengikuti standar NCC. Meski begitu, tidak semuanya diterima mentah-mentah layaknya sebuah waralaba asing.
Dari segi bisnis, ada semacam revenue sharing antara NCC dengan kami. Persentase persisnya tidak bisa saya beritahu. Karena scheme kerjasamanya cukup banyak. Bukan hanya sekadar bayar ini dan itu, tapi ada semacam mutual understanding untuk sama-sama mengembangkan diri, ujar Lendi.
Kenapa juga tidak memakai saja nama NCC ketimbang harus menciptakan label baru? Kita punya idealisme bahwa brand kita yang harus berkibar, bukan brand asing. Memang kadang terdengar terlalu ideal. Tapi kalau tidak sekarang kita mulai, lalu kapan? jelas sang kepala sekolah yang rajin mengecek email.
Asal tahu saja, kantor pusat CCI berada di Surabaya dan belum memiliki cabang di kota lain. Kami melihat Surabaya dan sekitarnya sudah punya potensi menjadi salah satu sentra industri TI. Di samping itu, minat orang Surabaya terhadap kursus TI besar sekali tapi agak price sensititive, ungkap Lendy.
Dengan menawarkan program unggulan berupa Web Design dan Authoring, CCI membidik mulai dari anak-anak sampai profesional. Biaya yang dipatok berkisar mulai dari 200 ribu hingga 3 jutaan per program. Sejak dibuka Maret 2001 hingga kini, murid yang sudah lulus ada sekitar 20 orang dari 50 angkatan.
Yang cukup menarik, bagi lulusan CCI, mereka tidak dijanjikan sesuatu. Misalnya, peluang kerja dan sebagainya. Kita tidak memberi janji. Saya berpendapat, keberuntungan adalah titik bertemunya kesiapan dan kesempatan. Di sini kita membekali peserta dengan kesiapan. Kesempatan bisa dicari, tegas Lendy.
Meskipun demikian, Yang hasil akhirnya baik, bukan tidak mungkin akan kami ajak bergabung ke divisi software development, web application developer, dan IT service solution, kata Lendy memberi harapan.
Untuk pengembangan di masa mendatang, CCI lebih mengarah kepada peningkatan kemampuan para pengajarnya. Kami akan terus mengupgrade kemampuan para pengajar, bukan hanya soal computer technical skill tetapi juga mengenai manajemen, kata Lendy.
Salah satu target yang ingin mereka capai dalam waktu tidak lama adalah menyangkut jumlah siswa. Mereka berharap hingga tahun 2003 bisa menggaet setidaknya 2000 siswa. Kenapa tidak sekalian berharap 2003 orang saja ya?
Kursus TI lain yang juga didukung oleh perusahan cukup besar adalah Ciber TI, www.ciberitc.com. Memang namanya begitu, bukan salah ketik. Ciber TI adalah singkatan dari Consultant in Business, Engineering, and Research TI. Bisa-bisa saja ternyata bikin singkatan seperti itu.
Agak berbeda dengan CCI, mereka yang berada dibalik kepemilikan tempat kursus yang satu ini bukan orang baru dalam dunia TI. Setidaknya untuk urusan koneksi Internet, PT Dutakom Wibawa Putra yang tercatat sebagai pemegang sahamnya sudah cukup lama dikenal sebagai pemegang waralaba ISP berlabel D~NET untuk Surabaya dan sekitarnya.
Jumlah investasi yang harus dikeluarkan dalam membangun Ciber TI (CI) yang dibuka sejak Juli 2001 itu tergolong cukup besar. Yang jelas, biayanya besar, karena kita adalah training center yang berfokus pada hands-on training. Oleh karena itu, selain peralatan komputer, printer, dan sebagainya, kami juga harus menyediakan beberapa perangkat untuk keperluan labolatorium seperti Cisco routers yang harganya mencapai ribuan dolar US, ujar Eva Marlina, Marketing Executive, tanpa mau menyebutkan total investasi yang dikucurkan dalam bisnis ini.
Dengan bermarkas di Graha Bumi Modern yang terletak di pusat kota Surabaya, CI menawarkan beragam program pelatihan yang biayanya mulai dari 250 ribu (pelatihan Internet) hingga 6 juta rupiah (paket Cisco Training) per jenis pelatihan. Di antara jenis pelatihan itu, yang paling banyak peminatnya ada tiga, yaitu Cisco Programs (Networking), Web Designer, dan Web Developer.
Pada umumnya mereka yang mengambil program Web Designer adalah pelajar dan mahasiswa. Sedangkan untuk program Web Developer dan Networking Education cenderung lebih banyak dari perusahaan, ungkap Eva.
Untuk urusan sertifikasi, mereka menawarkan sejumlah sertifikat macam Cisco Certified Network Administrator (CCNA), Microsoft Certified Software Engineer (MCSE), dan Certified Internet Webmaster (CIW) dengan menggandeng masing-masing vendor untuk penyediaan kurikulum standarnya. Dalam mengadakan beberapa pelatihan lain, mereka menjalin bekerja sama dengan Executrain dari Amerika Serikat.
Meskipun hampir semua kurikulumnya mengacu pada institusi dari luar negeri, CI bukanlah bentuk waralaba dari luar negeri. Saat ini, mereka telah mempunyai dua cabang. Selain di Graha Bumi Modern, cabang lainnya berada di Raya Margerejo Indah 115 G. Semuanya di Surabaya.
Sementara jumlah murid secara keseluruhan yang telah bergabung tercatat sekitar 150 orang. Yang telah menyelesaikan masa kursusnya berjumlah 120 orang.
Di tempat kursus yang satu ini, fasilitas yang disediakan untuk para siswa tergolong cukup istimewa. Ada perpustakan, akses Internet, coffee break, danini yang paling menarikmakan siang!
Ke depan, mereka memasang target untuk menjadi lebih dari sekedar pusat kursus TI. Kami ingin membuat CI bukan sekedar training center saja, akan tetapi menjadi continuing education center yang memiliki IT learning community, ujar Eva.
Oh ya, meski label yang dipasang adalah Ciber TI namun nama domain yang digunakan adalah ciberitc.com, bukan ciberit.com (hingga tulisan ini dikerjakan, domain itu masih tersedia). Aneh bukan?
Wah, pertanyaan cukup kritis nih. Kita adalah IT Center, kata Eva mencoba berkelit.
Di samping kedua kursus TI tadi, sebenarnya masih ada beberapa nama lain yang tergolong baru di Surabaya. Sebut saja macam Informatics dan APTECH. Kehadiran pusat-pusat pelatihan TI itu, selain menawarkan banyak alternatif bagi mereka yang ingin menekuni dunia TI, juga menghadirkan peluang kerja yang cukup besar bagi para praktisi TI lokal. Mereka dibutuhkan sebagai pengajar.
Di CCI, semua pengajar materi bidang komputer adalah praktisi TI yang mempunyai kemampuan mengajar. Namun untuk mata pelajaran seperti Business Communication yang disampaikan dalam bahasa Inggris, pengajarnya adalah dosen bahasa Inggris yang benar-benar kompeten, ujar Lendy dari CCI yang sementara ini memiliki delapan orang pengajar.
Kesempatan para praktisi untuk menjadi pengajar terbuka lebar. Peluangnya sangat besar, dan kita sangat welcome dengan itu. Namun ya harus memenuhi standar dalam hal pengajarannya. Karena tidak semua orang punya kemampuan untuk mengajar, kata Lendy.
Jika berminat jadi pengajar di CCI setidaknya harus menguasai teknik komunikasi, presentasi, dan kaya akan studi kasus. Oleh karena itu, praktisi sangat tepat untuk kriteria itu, lanjutnya.
Sebelum resmi diterima jadi pengajar, masih ada sejumlah tes yang harus dilewati. Kita diberikan pertanyaan yang berhubungan dengan penguasaan bidang yang disebutkan dalam surat lamaran. Setelah itu, masih ada ujian praktik sesuai keahlian. Misalnya untuk desainer harus mengerjakan sebuah desain sesuai permintaan, kenang Oktaris Novel E., desainer Web lepas yang direkrut CCI sejak April 2001.
Peluang kerja serupa juga ditawarkan oleh CI dengan syarat yang tidak jauh berbeda, meski agak lebih formal. Misalnya, harus lulus S1 sesuai bidang yang akan diajarkan, bisa bahasa Inggris, pengalaman kerja praktik minimal 1 tahun, menguasai cara berkomunikasi, dan punya portfolio.
Yang menarik, selama ini perekrutan tenaga pengajar di CCI sebagian besar justru bukan melalui jalur formal. Sebagian besar saya dapatkan dari teman-teman di komunitas. Baik lewat mailing list atau memang kenal karena profesi. Karena praktisi biasanya juga lebih gaul di komunitas, he he he..., tutur Lendy yang juga mengikuti beberapa milis itu.
Hal itu diiyakan oleh salah satu praktisi Web yang jadi pengajar di CCI. Saya tahu kalau ada lowongan dari milis e-bisnis dan beberapa milis TI lain yang ada di Jatim, ungkap Yuliasari Puspita Dewi yang juga bekerja sebagai desainer Web di DigConcept.com.
Sementara untuk urusan gaji, biasanya dibedakan antara pengajar yang berstatus tetap dengan yang part-time. Di CCI, selain gaji bulanan, para pengajar tetap juga mendapat insentif mengajar dan tunjangan kesehatan. Lain halnya dengan di CI. Pengajar part-time atau paruh waktu juga memperoleh gaji bulanan, sama dengan yang tetap. Yang jelas, besarnya tidak sama.
Jika penyampaian materi tergolong memuaskan atau bagus, maka kami akan memberikan tambahan berupa komisi, ujar Eva dari CI yang memiliki sekitar 19 orang pengajar tetap dan tidak tetap.
Nampaknya, menjadi pengajar lumayan mengasyikkan dalam menambah penghasilan. Meskipun tidak mau menyebutkan jumlahnya, namun sejumlah pengajar yang ditemui menyatakan cukup puas dengan gaji yang diterima selama ini.
Puas sih, tapi belum bisa dijadikan sandaran hidup. Itu menurut saya. Tergantung lifestyle seseoranglah. Setiap orang kan berbeda gaya hidupnya. Bisa saja menurut orang lain sudah bisa mencukupi kebutuhan hidup, ujar Justinus Andjarwirawan, salah seorang pengajar di Informatics Surabaya yang sehari-harinya mengurusi jaringan komputer di Universitas Kristen Petra Surabaya.
Di luar urusan uang, sebenarnya ada pertimbangan lain bagi para praktisi TI itu ketika menerima tawaran jadi pengajar.
Saya bangga dipercaya ikut mengembangkan CCI dengan kemampuan saya. Di sini juga saya bisa bebas berekspresi, seru Novel, panggilan akrab Oktaris Novel E., yang diserahkan tugas membuat situs Web CCI.
Namanya juga tempat kursus, siswa yang harus diberikan pelatihan terdiri dari berbagai karakter dan usia. Senang juga sih karena disini kita dapat melihat berbagai karakter orang. Cuma kadang tidak enaknya pas ada siswanya agak tuwir yang dalam menerima pelajaran lebih lambat mercerna dibanding yang muda-muda. He he he! Tetapi tidak semuanya kok kayak begitu, ujar Yuliasari Puspita Dewi yang biasa dipanggil Itta itu.
Tertarik dengan peluang ini? Biar diterima, tidak ada salahnya menyimak filsafat pisang goreng ala Novel.
Kalau diumpamakan dengan makanan, bila mereka butuhnya pisang goreng maka usahakan memiliki pisang goreng yang lebih spesial dari yang bisa diberikan orang lain. Misalnya, taburi dengan keju dan hidangkan dengan secangkir teh. Artinya, biar dilirik dan diterima, kita mesti punya ciri khusus yang lebih menarik dibanding yang lain, tutur Novel yang juga aktif di organisasi Wars (Webmaster Arek Suroboyo) dan Wemase (Webmaster Singo Edan).
Kseimpulannya, apakah kalau mau direkrut jadi pengajar bidang TI harus bisa bikin pisang goreng rasa keju? Ah, tentu saja tidak! (ben)
| Arsip mwmag | [Up] | www.master.web.id/mwmag |